
“Saudara ABDUL QUDDUS, saya nikahkan saudara dengan anak perempuan saya bernama SRI ROHYANTI ZULAIKHA dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat, dibayar TUNAI”.
“Saya terima nikahnya, SRI ROHYANTI ZULAIKHA binti Drs. SYAHYANTO, dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat, dibayar TUNAI”.
Dua kalimat yang saling bertautan dan bersahutan itu kembali bergema pada file kenangan yang pernah kulalui dan kini kuputar ulang dalam kehidupanku. Kalimat itu membuat tangan dan hatiku bergetar. Hari Ahad, 21 Februari 1993, pukul 08.15 WIB di hadapan Drs. M. Fathoni, Kepala KUA Kecamatan Depok, disaksikan pula oleh kedua orang tua kami, seluruh sanak keluarga dan para tetangga di sekitar Jl. Anyelir 3/290 Perumnas Condongcatur.
21 Februari 1993, 18 (delapan belas) tahun yang lalu. Tak ada pesta meriah, tak ada undangan berpita jingga, tak ada tenda biru dan tak ada musik atau qasidah. Suasana ijab qabul pagi itu berlangsung dengan amat sederhana karena ibunda Susilowati dalam keadaan sakit dan baru pulang dari operasi kanker payudara yang dideritanya.
Walau sederhana tanpa pesta, namun tetap membuat aku dan isteriku amat sangat bersyukur karena pernikahan kami dihadiri oleh orang tua kami yang masih lengkap, masih mampu mendampingi kami.
Rumah tanggaku telah melalui perjalanan yang lumayan panjang. Menurun, mendaki, kadang berkelok dan menikung tajam, walau kadang melelahkan. Berasal dari dua suku yang berbeda, Jawa dan Sumatera, adalah sebuah keadaan dan kondisi yang tak mudah kami lalui, perlu perjuangan dan saling pengertian. Alhamdulillah, atas bimbinganNya, kami berhasil secara perlahan melewati berbagai macam tantangan dan halangan yang menghadang.
Alhamdulillah, 3 orang anak laki-laki yang Allah anugerahkan kepada kami dari pernikahan ini membuat kami tak pernah berhenti bersyukur. Anak-anak yang taat dan patuh kepada kami, anak-anak yang santun. Kendatipun kadang-kadang kenakalan kecil yang mereka lakukan membuat aku dan isteriku memarahi mereka. Maafkan Babe anak-anak, kalau selama ini kadang menakutkan kalian. Sungguh, Babe sangat menyayangi kalian.
Berhari-hari dan bermalam-malam, dalam setiaap sujud dan munajat kepada Sang Maha Pencipta, selalu terhampar do’a-doa agar ketiga anak laki-laki yang diamanahkan Allah kepada kami ini, menjadi anak yang berguna untuk kehidupan, di dunia dan di akhirat.
Dalam heningnya malam, dalam munajat kepadaMU ya Rabb...air mata ini sering kali tertumpahkan karena bertumpuknya harapan dan keinginan, yang sekaligus bertumpuknya rasa takutku akan ketidak-sempatanku menyaksikan masa depan mereka. Walau sesungguhnya aku memang sadar, aku memang yakin bahwa masa depan mereka adalah milik mereka. Aku dan isteriku hanya mampu menggagas dan merencanakan, tapi Engkau ya Allah, yang Maha Menentukan.
Hari ini, sudah 18 tahun aku mengayuh bahtera kehidupan bersama isteri dan anak-anak kami. Layar itu semakin berkembang, membawa laju bahteraku mengharungi samudera kehidupan nan teramat luas. Berjuta nikmat yang telah kami coba untuk mensyukurinya, namun sungguh tak mampu kami lakukan karena keterbatasan dan kedha’ifan. Maafkan hamba ya Allah, ya Rabb atas kelemahan dan kekurangan ini. “Rabbanaa auzi’naa an nasykuro ni’matakallatii an’amta ‘alaynaa wa ‘alaa waalidaynaa wa anna’malaa shoolihan tardhoohu, wa adkhilnaa birahmatika fii ‘ibaadikash-shoolihiin” (Ya Rabb, izinkan kami untuk mensyukuri semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami. Dan izinkan pula kami untuk melaksanakan amal sholih yang Engkau ridhoi. Masukkanlah kami dalam golongan hambaMU yang sholih yang Engkau rahmati)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar