Kamis, 25 November 2010

Hati adalah Cermin


“Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu” demikian bunyi bagian syair lagu berjudul TUHAN yang dilantunkan dengan syahdu oleh kelompok BIMBO. Bunyi syair itu senada dengan apa yang pernah disabdakan Rasulullah Muhammad SAW. lima belas abad silam bahwa pada jasad manusia ada segumpal daging. Bila daging itu baik, akan baik pula sikap dan perilaku manusia itu dan bila daging itu buruk (dalam makna majazi), maka akan dapat dipastikan akan buruklah sikap dan perilaku manusia itu. “Ketahuilah Itu adalah hati”, ungkap Rasulullah menutup pesan haditsnya.

Hati manusia memang merupakan organ yang menyimpan misteri yang terkadang sulit untuk diselami, sehingga memunculkan ungkapan ironi “dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu”. Untuk mengukur keimanan seseorang, Allah melihat pada kondisi hati mereka, bukan diukur dari bentuk rupa dan jasmaninya. “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasmanimu, juga tidak kepada paras mukamu, akan tetapi Ia melihat kepada hatimu” demikian sabda Rasulullah SAW.

Hati adalah tolok ukur keberhasilan manusia menjalin pergaulan dan menjalani kehidupannya. Manusia yang menaburkan benih kebaikan dan ketulusan dari hatinya, akan menuai kebaikan dan ketenteraman. Sebaliknya, jika yang ia taburkan berupa benih kebencian dan keburukan yang berasal dari bisikan najis dari syaitan yang senantiasa mengotori hati manusia itu, maka yang akan didapati adalah panenan keburukan dan ketidaktenteraman hidup, bahkan dapat pula menjadi sumber kehancuran pergaulannya. Begitu luar biasanya dampak yang diakibatkan oleh buruknya hati itu, sehingga terkadang mempengaruhi sikap bicara dan raut muka. Akan tetapi Allah sangat memahami kekhawatiran hambanya akan kerusakan dan keburukan hati mereka, maka Allah berikan jalan yang lurus. Manusia yang beriman dianjurkan memperbanyak ingat padaNya, menghiasi hatinya dengan ber-istighfar, ber-tadabbur (melihat contoh kejadian masa lalu) dan ber-tafakkur (introspeksi diri), itulah sebagian jalan yang baik untuk hambaNya yang beriman dalam mengelola dan mengkondisikan hati mereka agar tidak rusak dan tidak mudah tercemari oleh bisikan syaitan laknatullah. Sebab syaitan sangat risih dan masyghul bila menyaksi-kan ada hamba Allah yang beriman, yang bersatu dan bersama untuk dicintai dan mencintai Allah, yang menjalin kerukunan dan ukhuwah. Sehingga dengan segala upaya mereka kotori hati manusia yang baik itu agar saling benci, saling fitnah, saling curigai, saling umpat dan caci maki, yang akhirnya kebersamaan, kerukunan, ukhuwah antara manusia-manusia yang baik itu menjadi hancur berantakan penuh dendam dan permusuhan. Maka kalau kehancuran yang diidam-idamkan syaitan itu terwujud, mereka akan bersorak kegirangan, pekik keberhasilan memperdaya hamba Allah mereka teriakkan, sebagai lambang kemenangan dan kesenangan mereka untuk memperbanyak teman sejawat kelak merasakan adzab neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.

Kebiasaan kita mencibir dan membicarakan orang lain (Jawa : ngrasani) adalah salah satu penyakit yang muncul dari keburukan hati. Perbuatan ini nampak sepele dan sederhana. Namun dampaknya sangatlah besar bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Besarnya dampak ngrasani orang lain tersebut pernah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya “Sesungguhnya ghibah (ngrasani) itu lebih berat dosanya daripada zina”. Para sahabat bertanya; “kenapa demikian ya Rasulallah?”. Rasul Menjawab; “Apabila seseorang terlanjur berzina dan kemudian ia bertobat dengan sebenar-benarnya (taubatan nashuha), maka Allah akan mengampuni dosanya itu. Tapi dosa ghibah, tidak akan diampuni Allah sebelum orang yang dicibir atau dibicarakannya itu memberi maaf”. (Dalam Kitab: Irsyadul’ibaad ilaa Sabiilirrasyaad).

Di hari ini, di hari yang penuh berkah ini, kita semua menggantungkan sebuah harapan, mudah-mudahan Allah SWT menganugerahkan pada kita hati yang penuh kedamaian, kesejukan dan ketentraman. Menghindarkan kita dari segala penyakit hati yang akan mengotori nilai-nilai ibadah kita kepadaNya.
Semoga ………… !!!

Waktu itu bagaikan "Pedang"....


“Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran” (QS. Al ‘Ashr 1-3)

Kemampuan memanfaatkan waktu bukan saja masalah efektivitas dan daya guna seorang hamba. Seorang yang berhasil mengatur waktu sebaik mungkin dan diman-faatkannya untuk kebaikan, akan memperoleh keuntungan ganda.
Pertama, Secara pribadi ia akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia. Kedua, ia akan digolongkan Allah dalam golongan “sebaik-baik” manusia. Sebaliknya, orang yang melalaikan pentingnya waktu, bukan saja akan rugi secara material, tetapi juga akan digolongkan Allah dalam golongan “sejelek-jelek” manusia.

Sabda Rasulullah Muhammad SAW.:
“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang dikaruniai panjang umur dan ihsan perbuatannya. Sedangkan sejelek-jelek manusia adalah mereka yang dikaruniai panjang umur tapi dihabiskannya untuk kemaksiatan dan kejahatan

Senada dengan sabda Rasulullah di atas, Allah SWT. memperingatkan di dalam Al Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri (seseorang) memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr 18)

Peringatan Allah di atas, sesuai dengan kenyataan yang melingkupi kehidupan kita sehari-hari. Seandainya mau berhitung secara obyektif, mungkin banyak waktu yang kita habiskan bukan untuk beribadah kepada Allah. Bila kita kumpulkan waktu yang kita gunakan untuk shalat, berwudhu, mengkaji Al Qur’an dan ilmu-ilmu agama, berdakwah antar sesama, dan ibadah lainnya, mungkin belum mencapai seperlima dari waktu yang Allah anugerahkan kepada kita. Itupun bila amaliyah ter-sebut kita lakukan dengan ikhlas dan mencari ridho Allah semata.

Hampir seperempat waktu yang ada, kita habiskan untuk tidur, istirahat, sekolah, bekerja dan lain-lain. Semua pekerjaan tersebut pada dasarnya adalah duniawiyah. Ia baru bernilai ibadah dan mendapat kebaikan disisi Allah apabila diniatkan ikhlas sebagai pengabdian dan mencari ridho Allah SWT. Tentunya, keuntungan ganda seperti tersebut di atas akan didapat, duniawi tercapai dan insya Allah, ridhoNya akan kita peroleh.

Memang, tidak dapat disangkal lagi, bahwa dalam perjalanan panjangnya, sudah cukup banyak hasil yang telah dicapai. Perbaikan di segala bidang masih perlu ditingkatkan, terlebih lagi meningkatnya niat ikhlas dan pengabdian berbingkai ta’abbud kepada Allah SWT. dan mencari ridhoNya yang harus dimiliki oleh setiap sumber daya insani yang ada di dalam lembaga ini. Sebab, bila sebuah lembaga pendidikan yang dilandasi oleh kerangka yang diniatkan untuk berta’abbud kepada Allah SWT. kelak dimasa mendatang akan lahir para dokter yang manusiawi, yang menempatkan nilai kemanusiaan di atas komersialisasi. Akan lahir para akuntan yang tidak suka memanipulasi pembukuan. Akan tampil para ekonom yang berorientasi pada kepentingan umat. Akan lahir para birokrat yang menghargai kepentingan orang banyak. Akan lahir para tokoh yang menjadi uswah hasanah (suri teladan) bagi lingkungannya.

Dan Na’udzubillaah, bila sebuah lembaga sudah menjadikan dunia sebagai tujuan utama tanpa ada niat yang ikhlas, apalagi untuk mencari ridho Allah, maka akan lahir darinya para dokter yang berorientasi material dan komersial ketimbang kemanusiaan dan ukhuwah. Akan banyak para akuntan yang lebih suka menutupi temuan manipulasi dan korupsi ketimbang memberantasnya. Akan tampil para ekonom yang sibuk menggali peluang bisnis para konglomerat dan industrialis ketimbang untuk masyarakat banyak. Akan banyak birokrat yang suka memeras dan meminta komisi ketimbang melayani rakyatnya. Akan lahir para tokoh yang uswah qabihah (contoh buruk) yang akan semakin menyesatkan lingkungannya.

Saudaraku,
Mungkin detik inilah kita bisa memulai untuk menghiasi kembali niat dan tujuan perjalanan hidup kita, sebab amal yang kita perbuat tidak ada yang netral. Hanya ada dua pilihan yang pasti. Amal baik (shalih) yang akan dicatat oleh Malaikat Raqib, yang mendeteksi kita dari sebelah kanan. Atau amal jelek (maksiat) yang akan dicatat oleh Malaikat ‘Atid, yang mendeteksi kita dari sebelah kiri. Tiada yang lain dari itu !.

Allah Maha Mengetahui segala apa yang kita perbuat, walaupun itu hanya dari bisikan hati.
“Tiada satu ucapanpun yang diucapkan manusia melainkan ada didekatnya malaikat pengawas Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir)” (QS. Qaaf 18)

“Dan sesungguhnya bagimu ada malaikat yang mengawasimu, (Malaikat) yang mulia dan yang mencatat (pekerjaan¬pekerjaanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(QS. Al Infithaar 10-12)

”Waktu itu bagaikan mata pedang yang tajam. Bila kau tak mampu mengendalikannya, maka ia akan menebas batang lehermu” (Mahfudhat)

Untuk Anakku Tersayang....


Anakku tersayang,
Bila kuandaikan kami, orangtuamu, sebagai embun
kami adalah embun yang sudah mulai mengering karena tajamnya sorot mentari
yang coba bertahan dengan sisa kelembabannya yang coba memberdayakan diri dalam kehampaannya Bila kuandaikan kami sebagai bunga,
kami adalah bunga yang hampir layu dan lesu yang mengharap kecup embun penyegar yang mendamba siraman hujan di tengah garangnya kemarau
yang tengadah dalam kekakuan dan kebisuan kelopaknya
Kami memang salah nak,terlalu banyak berharap padamu, belahan hati kami yang telah berjuang meniti cita-cita
Kami memang salah,
karena mengharap pamrih dari tetes keringat dan air mata yang telah dengan ikhlas kami curahkan untuk darah daging kami, yang kami cintai, walau kami sadar bahwa kami tak boleh banyak berharap dan meminta !
Tapi salahkah kami,
bila berharap akan hasil jerih payah kami yang terukir dalam hati dan perasaan sebagai orangtua yang telah memberikan berjuta kasih sayang dan pengorbanan untuk anak buah hatinya ?
Salahkah kami,
bila berharap akan jawaban dari do’a-do’a yang selalu kami panjatkan dalam setiap sujud kami kepada Sang Maha Pencipta ?
Salahkah kami,
bila mendambakan kebahagiaan hari esokmu yang nanti akan kau jalani tanpa kami.
Dalam kesendirian tanpa kemanjaan, karena kita menyadari, bahwa lambat atau cepat kita pasti akan terpisah oleh proses kehidupan dan kematian

Anakku
Pancaran ilahiyah kehidupan kami
Saat ini kami sudah tak mampu lagi membelai manja rambutmu
tak bisa lagi mengatur permainanmu seperti dulu ketika engkau masih kanak-kanak
Kami sudah tak sanggup lagi memaksakan keinginan kami untuk mengarahkan jejak kaki kehidupanmu, karena engkau mulai tumbuh menjadi lelaki dewasa, sudah mampu berbuat untuk dirimu sendiri

Ketika mendidik dan menemui kehidupanmu
kami bisa menyadari akan perjuangan orangtua kami dulu
sehingga kamipun rela menderita asal engkau bahagia
kami rela tak makan asalkan engkau kenyang
kami sanggup tak berpakaian asal ananda senang
kami ikhlas merasakan sakit asal engkau tetap sehat nak ! bahkan ibumu, ia rela pertaruhkan nyawanya ketika melahirkanmu
sampai dagingnya diguntingpun ia coba bertahan asal engkau selamat lahir ke alam dunia ini

Anakku,
cahaya penerang dan mutiara rumah tangga kami, dalam setiap penderitaan yang kami hadapi, ada kebahagiaan ketika menyaksikan eng kau berangkat sekolah
kami sadar dan maklum ketika melihat engkau gagal dalam studi
itu bukan berarti engkau tak mampu, tapi pelajaranmu memang sulit
ketika mendengar engkau tak mampu mencapai prestasi, kami memahami kalau memang temanmu lebih pandai dan ketika sampai berita bahwa engkau melakukan suatu
dosa kami sadar bahwa engkau sesungguhnya tidak bersalah, tapi lingkunganlah yang menyebabkan engkau terjerumus kejurang itu
kamipun tak pernah menyalahkanmu, karena kami sadar mungkin itu disebabkan oleh kekurangmampuan kami mendidik dan membimbing-mu
Tak kelu lidah kami berdo’a
tak henti kami bermunajat
agar engkau mampu menghadapi setiap tantangan hidup
agar engkau tabah dan sabar meniti cobaan yang datang sehingga kami bisa bahagia dengan tangis kebanggaan bila menyaksikan engkau berhasil melangkah ke arah kehidupan yang lebih baik untuk masa depanmu

Anakku yang tercinta,
Bila kuandaikan engkau matahari, kehadiranmu dinanti setiap pagi
menerangi keluarga dengan sinar kedamaian
mengganti kegelapan dengan kilau cahayamu yang tegar mengusap kulit bumi dalam kelembutan
menyinari pasir pantai hati kami menjadi indah bagai kemilau mutiara mutu manikam
Dibalik setiap harapan panjang kami
terbersit do’a agar engkau kokoh bagai pohon dalam firman Tuhan,
akarnya menghujam ke dasar bumi
dahannya menjulang mencakar langit
Sehingga, sekuat apapun badai menghantam engkau tetap tegar dan tak mudah tumbang Alangkah bahagia hati ini, melihat engkau sukses menyaksikan hasil jerih payah pengorbanan kami, yang telah kami lalui dengan guyuran keringat dan tumpahan airmata
yang telah kami tebus dengan sejuta perjuangan dan pengorbanan
yang telah ditebus dengan tetes darah ibumu, antara lengking kepedihan dan jerit kesakitannya

Dan, diantara kekhawatiran kami akan dirimu kami tetap berharap sekali ini saja,
sedikit saja
pada kesadaranmu akan harapan dan dambaan kami semoga engkau mantapkan langkah meniti jalanmu

Selamat berjuang anakku, melangkahlah dalam iringan do’a kami

Suami Isteri Akhir Zaman




Pernikahan menyingkap tabir rahasia

Isteri yang kau nikahi tidaklah semulia Khadijah
tidak setaqwa ‘Aisyah,
pun tidak setabah Fatimah

Ia hanyalah wanita akhir zaman
yang hanya punya cita-cita menjadi isteri yang shalihah....

Pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama
Isteri adalah tanah, Suami langitnya

Isteri adalah ladang tanaman,
Suami pemagarnya

Isteri bagaikan anak kecil,
Suami tempat bermanjanya

Saat Isteri menjadi madu, teguklah ia sepuasnya

Ketika Isteri menjadi racun,
Suamilah yang menjadi penawarnya

Seandainya Isteri tulang yang bengkok,
berhati-hatilah meluruskannya

Pernikahan menginsyafkan kita akan perlunya iman dan taqwa
untuk belajar meniti sabar dan rid ho

Suamimu bukanlah Rasulullah,
bukan Abu Bakar,
bukan pula Umar,
juga bukan Utsman,
pun bukan Ali bin Abi Thalib

dia hanyalah laki-laki akhir zaman
yang berusaha menjadi Suami yang shalih....

Menabur Cinta, Menuai Sorga....


Suatu hari seorang ayah mengajak anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun untuk berwisata ke lereng sebuah pegunungan. Keduanya mampir di mulut sebuah gua yang berada di bagian dari lereng gunung tersebut. Si anak bertanya kepada ayahnya; “ayah, apa nama tempat ini?”. Betapa terkejutnya anak kecil itu, manakala ia mendengar dari dalam gua terdengar suara anak kecil bertanya kerpada ayahnya, persis seperti pertanyaannya. Lalu si anak berteriak: “hei!”. Terdengar suara teriakan dari dalam gua dengan suara teriakan yang sama; ”hei!”. Dia semakin penasaran, maka dia kembali berteriak; “kamu jelek”, terdengar suara dari dalam gua: “kamu jelek”. Demikianlah suara itu berulang seperti bunyi yang diteriakkan si anak. Lalu sang ayah berkata: “anakku, bunyi itu adalah gema namanya. Ia akan memantulkan bunyi suara persis seperti yang engkau suarakan”. Si ayah melanjutkan penjelasannya yang kali ini diselipkannya nasehat buat sang anak, “bunyi gema itu adalah gambaran dari makna kehidupan ini. Kehidupan akan keras terasa bila engkau men ghadapinya dengan keras. Dan ia akan berlemah lembut kepadamu bila engkau berlemah lembut kepadanya”. Sekarang cobalah engkau berteriak lagi, dan katakan: “kamu pintar”. Maka dari dalam gua terdengar kata: “kamu pintar”.

Demikianlah halnya dengan keadaan kita dalam kehidupan ini, kita akan menerima pantulan dari sesuatu yang kita perbuat. Kebaikan akan berbalas dengan kebaikan. Keburukan akan berbalas dengan keburukan. Jika dunia ini diibaratkan dengan sawah dan ladang, maka kita akan mendapatkan apa-apa sesuai dengan yang kita tanam. Kalau cinta yang kita taburkan, maka sorga yang akan kita dapatkan. Akan tetapi, jikalau kebencian yang kita tanamkan, maka nerakalah yang akan kita dapatkan. Dan bila neraka sebagai tempat akhir kehidupan esok, celaka dan nestapalah yang akan dihadapi manusia.
Na’udzubillah min dzalik.

Rabu, 24 November 2010

Laki-laki itu kupanggil “ABA”


Sejak aku mengenalnya dalam kehidupan di dunia ini, sosok laki-laki itu amat sangat aku kagumi. Suara lantang, tegas dan tatap matanya yang tajam membuat aku sering tak mampu menghadapkan wajahku kepadanya. Sejak aku mengenalnya, selalu harus kukatakan “ya” pada setiap perintah yang keluar dari mulutnya. Tidak pernah kukenal kata “tidak” dalam konsep dan kamus laki-laki ini.
Sebelas tahun umurku saat itu, saat ia memutuskan bahwa aku harus sekolah di Pesantren. Jawa Timur tujuan kami, ya Pondok Modern “Darussalam” Gontor. Tak ada satupun dari anggota keluargaku yang boleh membantah rencana itu, sekalipun ibuku, wanita yang biasa kupanggil ”emak”.
Kepribadian yang keras itulah yang menempa aku bertahun-tahun sebelum aku dikirimnya ke Gontor. Hari-hari di masa kecilku kuhabiskan dalam didikannya. Dia selalu menyatakan bahwa aku tak boleh cengeng, harus menjadi laki-laki. Apalagi aku adalah anak laki-lakinya yang paling tua.
Laki-laki itu kupanggil “Aba”, sosok seorang bapak yang telah banyak menanamkan kepadaku nilai-nilai kehidupan. Bertahun-tahun aku mengenalnya, mengaguminya dan Alhamdulillah sampai hari ini aku tak pernah kecewa kepadanya. Aku bangga mempunyai “Aba” seperti dia. Walau suaranya menggelegar, walau sosok kekarnya terlihat menakutkan, aku merasakan kelembutan yang tiada tara dari kasih sayang yang ia berikan kepada keluarganya, kepada kami anak-anaknya.
Kenangan bersamanya yang mengisi waktu kecilku tak pernah hilang, nasihat dan pesan mulia yang ia berikan hampir setiap selesai jama"ah maghrib kala itu, tersusun rapi dalam sanubariku. Kalimat-kalimat mulia dan penuh hikmah itu seakan mengalir perlahan mengikuti perkembangan umurku sampai hari ini, walau tak lagi berdekatan dengannya.
Laki-laki itu kupanggil “Aba”, keteguhan bathin yang diajarkannya mengajarkan aku untuk tidak rapuh menghadapi hidup, dimanapun aku berada.
Belasan tahun aku hidup terpisah dengan laki-laki itu, prasasti yang digoreskannya di atas "pualam" masa kecilku itu tak pernah hilang. Setiap aku menemukan masalah dalam hidupku, maka sosok laki-laki itu yang muncul. Kadang ia muncul dalam senyum sejuknya. Kadang pula ia muncul dalam sorot mata tajamnya yang menggugah aku, yang membangkitkan aku, yang menggenggam erat bahuku. "Kamu harus yakin anakku, Allah pasti akan mendampingi kamu"....Pernah aku tertidur di atas sajadah di suatu malam, saat aku merasakan betapa beban hidup yang teramat berat aku hadapi...sosok itu muncul dengan kalimat tegasnya "bangun nak, tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan..inna ma'al 'usri yusroo...setiap kesulitan pasti ada kemudahan".
Dan, saat tulisan ini kubuat, laki-laki itu sudah berusia senja, 67 tahun umurnya. Bayangan masa-masa bersamanya saat kecilku masih jelas terasa. Bersepeda dan naik perahu ke sawah, mencari burung “ayam-ayaman” di sawah itu, sambil aku bermain dengan ketapelku di bawah pohon mangga milik nenekku. Masih kuingat saat aku menangis minta belikan perahu bermesin agar bisa melintasi sungai Ogan yang membentang di kampungku, dia katakan “nanti kita beli ya nak”. Itulah cara beliau menghiburku, walau sebenarnya aku tahu bahwa tak ada toko yang menjual perahu bermesin itu.
Laki-laki itu kupanggil “Aba”, Aba…hari ini kau berulang tahun yang ke 67, sehat selalu ya Ba, semoga ALLAH memberikan keberkatan kepada Aba dalam mengisi hari-hari mendatang. Do’a kami buat Aba selalu…..

Quddus Zoher,
yang amat mencintamu
21 Januari 2010
17.50 WIB

Anak Kecil di bawah Pohon itu...


Imam Asy Syibli pernah bercerita mengambil tamsil sebatang pohon dan seorang anak kecil. Adalah dia sebatang pohon yang rindang, tumbuh gagah di atas tanah pekarangan. Di bawahnya bermain seorang anak kecil, berlari-lari memutari pohon. Dia bermain menikmati gemerisik suara dedaunan yang saling bersentuhan. Suara-suara itu melantunkan melodi indah yang seringkali membuat sang anak tertidur di bawah pohon itu.

Suatu saat, anak itu berkata kepada pohon; “bolehkah aku minta daunmu untuk aku buat topi dan mainan lainnya?”. “Oh iya...silahkan ambil nak. Ambillah sesukamu, kapan saja kau mau”, demikian jawab si pohon. Beberapa lama kemudian, si anak berkata lagi; “pohon, bolehkah aku meminta ranting dan dahanmu untuk kujadikan tombak dan mainan?”. Ya, silahkan” jawab pohon menyetujui permintaan si anak.

Saat mulai tumbuh remaja, si anak berkata; “pohon, aku ingin batangmu untuk membuat rumah dan perahu. Perahu itu akan kugunakan berlayar mencari ikan untuk kujual agar aku mendapat uang”. “Oh silahkan nak, silahkan tebang aku dan ambil apa yang kau mau”, demikian jawaban pohon tanpa ada secuilpun kalimat keberatan atas permintaan si anak.

Rumah sudah berdiri, sebuah perahu besarpun sudah siap dibawa untuk berlayar mencari ikan dan sumber kehidupan lainnya. Lalu pada suatu saat, si anak datang lagi mendekati pohon yang hanya tinggal akarnya dan berkata; “pohon aku capek, aku lelah dan badanku terasa penat sekali. Bisakan engkau menolong aku?” “iya nak, mari kesini, mendekatlah padaku. Aku hanya tinggal akar, jadikanlah akar ini sebagai bantal untuk tempatmu bersandar. Tidurlah anakku, lepaskan capek, lelah dan penatmu disini”...demikian jawab pohon penuh kasih.

Subhaanallah......inilah tamsil hidup kita. Pohon itu orang tua dan si anak adalah gambaran kita sebagai anak. Atau pohon itu kita, si anak adalah anak-anak kita. Demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anaknya, orangtua berkorban dengan apa saja, bahkan sampai habis apa yang dimilikinya, mereka tak pernah mengeluh. Betapapun hanya tinggal akarnya, mereka tetap tak pernah mengeluh asalkan anaknya senang, asalkan anaknya bahagia menjalani kehidupannya.
Betapa mulia kau orangtua yang mengasihi anak-anaknya dengan seluruh jiwa dan raganya. Semoga kita menjadi “pohon-pohon” kehidupan yang ikhlas, berkorban untuk kehidupan masa depan anak-anak kita.Amiin, semoga!

Quddus Zoher
Sabtu, 16 Januari 2010
14,55 WIB

Anakku, kuatkan jiwamu, karena Allah akan terus menguji kita (Ryan anakku, separuh hidupmu dalam cengkraman derita)


16 tahun lalu, tanggal 4 Maret 1994, pukul 14.45 WIB, hari Jum’at sore....
Itulah saat pertama kami mendengar tangismu dari balik ruang operasi Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta. Kebahagiaan saat itu tak mampu dilukiskan dengan apapun dan dimanapun. Ibumu yang masih terkulai lemah karena pengaruh obat yang membiusnya, mencoba sadar secara perlahan. Saat itulah Babe memberikan bisikan padanya bahwa ia telah melahirkan seorang anak laki-laki, lengkap, sempurna dan berambut lebat. Babe ingat betul, ibumu nampak tersenyum mengisyaratkan bahwa ia bahagia melahirkanmu, walau harus melalui jalan pembedahan ceassar.
Anakku,
Hari-hari kita jalani dalam suka dan duka. Dalam kebersamaan, dalam kehangatan keluarga kita. Sungguh perasaan Babe tak akan pernah tenang manakala menyaksikan engkau menangis karena sakit. Saat umurmu baru seminggu, engkau terserang flu. Dan ketahuilah nak, demi mengurangi deritamu, seringkali Babe (maaf agak jorok) menghisap cairan yang ada di hidungmu. Itu Babe lakukan berulang-ulang, agar engkau lega bernafas.
Dua setengah tahun engkau mengikuti ibumu yang mendapat ikatan dinas di UI Depok, Jakarta. Setidaknya dua kali sebulan Babe menemui kalian di Jakarta, walau keadaan ekonomi keluarga kita saat itu sangat pas-pasan.
Anakku,
Saat usiamu memasuki angka 9 tahun, Allah mulai menguji kami orangtuamu. Entah apa yang kau rasakan saat itu. Yang kami tahu hanyalah bahwa setiap pulang sekolah engkau mengeluh pusing dan menyandarkan kepalamu ke tembok depan rumah kita. Ibumu yang sangat teliti dan sangat memperhatikan kesehatan keluarganya memeriksakan darahmu ke Rumah Sakit. Dan....itulah saat pertama Babe terhenyak. Saat engkau divonis terkena virus CMV, virus yang cukup ditakuti dan menyerang memori otak, sumber berfikirnya manusia. Sejak itulah, hari-hari kita mulai dirundung kesedihan. Walau do’a tak pernah putus kepada Allah Sang Khaliq, Sang Maha Pencipta. Dua tahun pengobatan harus kau jalani. Malam-malam berlalu hanyalah berisi do’a dan tahajjud, mengharap kesembuhanmu, mengharap kebahagiaan keluarga kita. Alhamdulillah Dia mendengar do’a-do’a kita, Dia kabulkan pinta dan harapan kita. Engkau dinyatakan sembuh total dan kebahagiaan mengisi relung hati kita kembali.
Karena dokter menyatakan kesehatanmu itulah, maka Babe dan Ibumu siap melepasmu untuk menimba ilmu pengetahuan di kawah candradimuka, Darussalam Gontor. Kebahagiaan menyaksikan engkau diterima di Gontor sungguh luar biasa. Menerima telepon dari ibumu yang menyaksikan langsung pengumuman kelulusan itu, hanya Babe jawab dengan derai air mata bahagia. Tak ada kata yang sanggup Babe ucapkan selain kalimah hamdallah, puji syukur kepadaNya, kepada Allah SWT yang begitu baik dan begitu besar kasihNya kepada kita.
Syawal 1426 H., engkau memulai hari-hari di Gontor. Ibu dan Babe serta kedua adikmu Fafa dan Adib merasa kehilangan. Namun kami tetap ikhlas. Ikhlas melepasmu, karena kepergianmu adalah kepergian dalam perjuangan meraih masa depan. Babe yakin, ibumu sangat berat melalui minggu-minggu pertama itu. Babe sangat menyadari hal itu. Ibumu sering mengigau menyebut namamu, dan itu Babe tahu karena dia amat sangat kehilangan dirimu. Ibumu berhadapan dengan dua pilihan yang teramat sangat berat. Antara keinginan selalu dekat denganmu dan bisa memelukmu kapan ia mau. Dengan keinginan dipihak lain, yaitu memiliki anak yang berakhlaq tinggi, pandai berbahasa asing, cerdas dan lulusan Pondok Gontor, sekaligus meneruskan harapan dan cita-cita Babe yang masih belum sempurna kala disana.
Anakku,
Selasa, 5 Februari 2008 pukul 15.15 WIB Babe tersentak menerima telepon darimu yang mengkhabarkan bahwa engkau sakit dan kakimu terasa lumpuh. Tangan Babe dan seluruh tubuh terasa bergetar. Hampir menjerit rasanya, namun Babe masih bisa menahannya. Babe menelepon ibumu yang sedang menguji skripsi mahasiswanya di kampus dan memberitakan tentang isi teleponmu. Sore itu juga kami berangkat meluncur menuju Gontor. Pukul 20.30 kami memasuki Gerbang PM Gontor, dan masya Allah....Babe dan ibumu tak sanggup lagi menahan tangis saat melihat engkau berjikrak-jingkrak berjalan, terpincang-pincang menarik kakimu, seakan menyeret badanmu saat keluar dari ruang kelas menuju kamarmu. Dari kejauhan kami menyaksikan engkau berjalan anakku. Terasa ada halilintar yang menyambar-nyambar, terasa sesak nafas di tenggorokan menahan air mata yang memaksa keluar, tertumpahkan mengiringi perasaan yang teriris-iris menyaksikan deritamu anakku.
Malam itu, kita langsung pulang ke Jogja dan langsung menuju Rumah Sakit Bethesda. Dari Bethesda kita disarankan ke RS. Sardjito yang memiliki Lab ENMG yang lengkap. Kami mencoba terus bertahan saat dokter Yudiana menyampaikan hasil pemeriksaan Laboratorium bahwa selaput syaraf kaki kananmu termakan oleh auto imun yang ada dalam badanmu. Subhanallah...penyakit macam apa lagi itu. Kami tetap bertahan dan tabah anakku. Sebagaimana pula ketabahan yang kau tunjukkan kepada Babe dan ibu saat mengantarmu periksaa di Rumah Sakit. Babe berlinang air mata saat kau katakan bahwa engkau tetap bersyukur kendatipun harus pincang, sebab banyak orang yang tak pernah punya kaki. Itulah kalimat yang teramat bijaksana dan bermakna besar bagi Babe. Kalimat itu justeru keluar dari mulut anakku yang sedang diuji olehNya. Luar biasa kesabaranmu anakku. Do’akan Babe dan ibu serta adik-adikmu juga selalu tabah menerima semuanya. Kami merasa bahagia ketika dokter menyatakan bahwa kakimu 90% dinyatakan sembuh, tinggal melakukan terapi-terapi sederhana agar lebih sempurna.
Anakku,
Kami semakin siap anakku, walau harus berkali-kali menerima cobaan Allah, saat sebulan yang lalu engkau mengeluhkan tanganmu yang sulit memegang pena bila menulis. Tanganmu kau bilang seperti kaku. Dan hasil ENMG pun menyatakan bahwa apa yang pernah terjadi pada kakimu, kini terjadi pada tanganmu. Allahu Akbar, berikan kami kekuatan sepenuh-penuh dan sebesar-besarnya ya Allah. Kami yakin bahwa Engkau tak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kami. Izinkan kami untuk terus sabar dan tabah menghadapi coba dan ujianMU ya Allah. Bukakan jalan bagi kami untuk memenuhi semua ujian dan cobaan itu, agar kami tak terpuruk dan tersaruk. Ya Allah, kami tetap sabar, kami tetap akan tabah. Besarkan jiwa kami menerima semuanya. dariMU kami hidup, untukMU kami hidup, dan hanya kepadaMU kami serahkan semua persoalan yang kami hadapi dalam menjalani hidup ini. Innaa shalaatanaa wa nusukanaa wa mahyaana wa mamaatanaa lillaahi rabbil’aalamiiin.........Dekaplah kami ya Allah dengan “sayap-sayap” kasih sayangMU, karena betapapun kemampuan yang kami miliki, tak mungkin bertahan tanpa bantuan dan pertolonganMU.

Wassalaam,
Qudsie Zoher, 15.12.2009

Cerita Cinta Sepasang Merpati...



Setiap pagi aku menunggumu di depan teras bangunan itu
Setiap pagi pula kau menyapa aku dengan senyum manismu
Selanjutnya kita terbang bersama, mengepakkan sayap kita
Kita terbang sambil menyanyikan lagu-lagu kesukaan kita
Lagu tentang cinta, tentang rindu dan tentang berjuta harapan kita

Saat sampai di tujuan itu, kita tambatkan cinta kita pada pohon flamboyan, yang tumbuh rindang di depan ruangan berjendela kaca
Di sana ada banyak harapan yang kita torehkan
Tentang masa depan
Tentang sebuah negeri yang indah dan damai
Tentang sangkar mungil dan asri
Tentang anak-anak kita yang lucu dan manis
Tentang semua yang akan mengagumi kita
Tentang apa saja...ya, tentang a..p..a s..a..j..a

Hari-hari kita lewati dalam keindahan dan kebersamaan
Tak ada hari tanpa cinta
Tak ada hari tanpa senyum manismu di pagi hari
Tak ada hari tanpa panggilan sayang dari celah bisikan lembutmu
Tak ada hari tanpa mimpi-mimpi yang kau ceritakan saat kita bercengkrama
Tak ada hari tanpa ciuman saat kita harus berpisah, kembali ke sangkar kita
Tak ada hari tanpa janji untuk kita bersua di esok hari

Ah merpati manisku....
Itulah kenangan yang terus mengalir
Kenangan yang kerap kali berputar-putar mengelilingi kesendirianku
Kenangan indah itu berubah menakutkan dan menyedihkan
Manakala aku membayangkan betapa kejamnya sosok rajawali yang mengambilmu
Rajawali yang menganggap sebagai juru selamat bagimu
Rajawali yang memporakporandakan cinta dan sayang kita
Rajawali yang merobek-robek rasa rinduku menjadi serpihan-serpihan berlumur dendam

Lihatlah aku merpatiku
Lihatlah aku yang masih mencari-cari dimana suara siulan lembutmu
Dengarkan suaraku yang tak pernah jenuh memanggilmu
Pernah aku menunggu di depan teras bangunan itu
Tapi aku tak pernah melihat bayanganmu ada di sana
Aku tak pernah lagi melihat sapaan lembut dan senyum manismu

Merpatiku,
Aku tetap mengharapkan engkau bahagia
Menikmati hari-harimu
Walau tanpa aku di sisimu
Cintailah rajawali itu dengan hati dan jiwamu
Belajarlah untuk melihat realita kehidupan yang nyata
Tanpa angan-angan dan tanpa khayal
Biarkanlah mimpi-mimpi yang pernah kau ceritakan
Menjadi bagian dari episode perjalanan kita
Perjalanan cinta sepasang merpati
Kau dan aku..............


Aseli ditulis oleh : Quddus Zoher
Sabtu, 23 Januari 2010
07.50 WIB

Jadilah Seperti Dua Tangan


“Kun kal yadain, walaa takun kal udzunain” (Al Hikmah)

Ungkapan kalimat yang mengandung hikmah kehidupan itu perlu menjadi bahan renungan dalam mengolah dan mengasah kepekaan jiwa kita. Arti dari kalimat singkat itu adalah: “Jadilah seperti dua tangan, jangan seperti dua telinga”.

Dua tangan, dalam tulisan ini, adalah anggota badan kita yang digunakan untuk memberi gambaran dari keadaan kehidupan yang saling membantu, saling menolong, saling meringankan dan saling mengingatkan dan sebagainya. Apabila salah satu dari keduanya merasakan sakit, maka tangan yang sehat akan memijatnya. Apabila salah satunya sedang mengangkat beban yang berat, maka tangan yang satu akan membantu secara cepat tanpa diminta. Begitu seia dan sekatanya kedua tangan itu. Nilai kebersamaan yang nampak adalah kebersamaan yang tulus. Luar biasa anugerah Allah ini. Kita seharusnya banyak belajar dari kebersamaan kedua tangan itu.

Sedangkan dua telinga, dalam tulisan ini, adalah anggota badan kita yang digunakan untuk memberi gambaran dari keadaan kehidupan yang tidak saling menghiraukan. Kedua telinga kita memang terpisah oleh kepala dan tak pernah bertemu, apalagi saling membantu. Bila telinga kanan sakit, telinga kiri tetap diam membisu. Demikian pula jika telinga kiri mengalami sesuatu, telinga kanan tak mampu berbuat apa-apa untuk membantu sekedar meringankan.

Dan tangan, sekali lagi dia menunjukkan fungsi mulianya. Dia bisa meringankan beban sakit tidak hanya buat temannya sesama tangan saja, tapi juga buat anggota tubuh lainnya. Telinga sakit, tangan bisa memijat dan atau sekedar mengelus-elus sebagai rasa empatinya. Pipi sakit, tangan juga akan melakukan sesuatu yang sama terhadap anggota badan lainnya.
Maka, sungguh amat tepat kalau kalimat hikmah di atas mengajak kita, menyuruh kita untuk belajar dengan dua tangan “kun kal yadain” (jadilah kamu seperti dua tangan)....hm sebuah tamsil dan i’tibar yang perlu kita jadikan renungan, agar hidup semakin bermanfaat dan bermakna. Semoga!

Quddus Zoher,
22 Maret 2010

Bayi Mungil itu kami panggil “ADIB”


Hari ini
Aku, isteriku dan anak-anakku terbangun dari tidur dalam keadaan bahagia
Suara lembut kubisikkan di telinga anak bungsuku
Perlahan kuucapkan iqamah dan adzan membangunkannya untuk shalat shubuh
Iqamah dan adzan lembut itu persis sama dengan apa yang kuucapkan 7 tahun yang lalu
Saat perawat menyerahkannya padaku di ruang operasi di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta

Ya, anakku yang bungsu juga lahir melalui operasi Caessar.
tiga kali perut isteriku dibedah, tiga kali pula aku menunggu kehadiran anak-anakku dalam desah kekhawatiran yang menegangkan.
Sungguh luar biasa kerja sukses para dokter yang membedah isteriku. Terima kasih atas semuanya. Terima kasih khusus buat Dr.H.Risanto S, DSOG., yang untuk ketiga kalinya membedah perut isteriku, mengeluarkan anak-anakku. Subhanallaah, atas pertolongan Allah, melalui tangan-tangan cekatan tim dokter itu anak-anakku lahir dengan selamat.

“selamat pak, laki-laki” demikian kalimat pertama yang kudengar saat perawat menyerahkan bayi mungil itu untuk kuiqamahkan dan kuadzankan telinganya.
Alhamdulillah, nikmat Allah mengalir mengisi relung kehidupan kami, mengganti segala kegundahan dengan kebahagiaan yang sulit tergambarkan.

Jum'at, 3 April 2003, 7 tahun yang lalu
Bayi mungil itu kuberi nama MUHAMMAD FAIZ REYHAN EL ADIBY ZULQUDSIE…….
Bayi mungil itu dipanggil “Adib”. Kata singkat itu sengaja kutambahkan dalam namanya, yang berarti “berbudaya”, “bermoral” atau yang paling penting adalah sebagai kenangan bahwa saat menjelang kelahirannya, isteriku mulai berganti status dari seorang Pegawai di Perpustakaan menjadi Dosen di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab. Nama itu sebagai momentum dan prasasti kata “Adab”.

Hari ini, bayi mungil itu sudah mulai tumbuh menjadi anak yang manis, yang pandai dan mulai menjadi teman diskusi kami. Bayi mungil itu kini dapat kuajak bercanda dan tertawa mengisi hari-hari kami.
Ya, bayi mungil itupun sudah mampu bermain, mandi, berpakaian dan makan sendiri.

Adib, kami menyayangimu dan mengasihimu. Selamat Ulang Tahun ke 7 anakku, do’a Babe, Ibu, dan kedua kakakmu selalu untuk kebahagiaan masa depanmu.

Istana Megah itu dibangun dengan do'a-doa....


Abdullah bin Abbas radhiyallaahu’anhu meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW bercerita tentang seorang ibu yang beruntung di Yaumil Mahsyar. Beliau menyatakan, nanti di Yaumil Mahsyar ada seorang ibu yang mengikuti proses peradilan di Mahkamah Rabb Maha Agung, Allah SWT., setelah proses persidangan dan perhitungan (Mizan dan Hisab) selesai digelar, maka Allah atas Kekuasaan dan KehendakNya, memerintahkan Malaikat untuk mengantar ibu itu menuju Sorga dan sekaligus menunjukkan tempat di mana ia tinggal menikmati anugerah Sorga tersebut.

Ketika sudah memasuki pintu Sorga, ibu dan Malaikat pendampingnya menerima salam hormat dari para Malaikat penjaga Sorga. Dengan ramah dan penuh keceriaan, si ibu diantar untuk menuju sebuah istana yang megah. Istana itu berukiran indah berlapiskan emas dan perak, dengan hiasan zamrud hijau dan intan permata. Dindingnya dari batu pualam yang bening dan mengkilat. Melangkahkan kaki di pintu itu, bergetar kaki si ibu dengan perasaan haru biru menahan rasa bahagia yang tak terbendungkan. Dalam keharuan itu ia coba bertanya kepada Malaikat pendampingnya; “siapakah pemilik istana indah dan megah ini?”. Malaikat menjawab dengan mantap; “ibu, ya kamu pemiliknya bu”. “benarkah?...”sungguh rasanya aku tak pantas menerima anugerah istana seindah dan semegah ini Malaikat, sebab shalatku, shadaqahku dan ibadahku masih banyak yang belum sempurna”, kata si ibu yang masih dalam kebingungan bercampur dengan keharuannya.

Atas berita dan pengetahuan yang diterima dari Allah, maka Malaikat pendamping itu menjelaskan kepada si ibu; “Allah Maha Tahu, Dia Tahu tentang apa yang telah ibu perbuat selama hidup di dunia. Allah Maha Tahu tentang belum sempurnanya sholat ibu, tentang kurangnya shadaqah ibu dan tentang kurang sempurna ibadah yang ibu lakukan. Tapi, ketahuilah, bahwa keteladan dan bimbingan yang ibu tanamkan kepada anak-anakmu menghasilkan “buah” Sorga yang indah dan megah ini. Ya, istana indah dan megah ini. Istana ini dibangun oleh do’a anak-anakmu. Setiap hari do’a mereka membangun dan menghiasi bagian dan sudut istana satu persatu, sejengkal demi sejengkal, akhirnya jadilah istana indah dan megah ini. Maka atas perintah Allah, Dzat Yang Maha Adil itu, kami persilahkan ibu masuk dan menikmati keindahan abadi di istana ini”.

“Selamat datang ibu mulia, selamat menikmati hasil perasan keringat dan air mata, bahkan tetesan darah perjuanganmu membesarkan dan mendidik anak-anakmu....”
Marhaban ya Ahlal Jinaan – Selamat Datang duhai Penduduk Sorga............................



Quddus Zoher
Jogja, 01 Februari 2010
10.25 WIB

Tangis Bahagia di Bakung 47 (16 tahun usia anakku M. Fikriansyah MRZ “Ryan”)

Masih terngiang lamat-lamat di balik memori masa lalu 16 tahun silam
Tangismu memecah heningnya malam di rumah kontrakan kita di Jl. Bakung 47 Perumnas Condongcatur, Yogyakarta.
Dari menara masjid di dekat rumah itu, masih terdengar suara jama’ah yang bertadarrus menegakkan amaliyah Ramadhan 1415 H. Hujan yang membasahi pepohonan dan jalan raya di depan rumah kita, membuat suasana sejuk dan tenang. Sesejuk hati babe dan ibumu mensyukuri kelahiranmu. Setenang suasana hati keluarga kita yang bercita-cita hidup dalam damai, saling menyayangi dan menghargai.

Anakku Ryan,
Malam ini, babe ingin mengenang saat-saat yang mencekam
Saat-saat dada terasa sesak, bergolak antara harapan dan kecemasan menanti detik-detik kelahiranmu, yang ternyata harus melalui operasi Caesar, setelah 24 jam lebih ibumu dipacu dan tanda-tanda kelahiranmu belum nampak.

4 Maret 1994, 16 tahun yang lalu anakku
Saat itu, setelah shalat Jum’at di masjid Asy Syifa’ RS. Sardjito, dokter H. Risanto menyampaikan keputusan bahwa kelahiranmu harus melalui operasi Caesar. Hati ini penuh dengan berbagai kemelut karena pengalaman pertama menanti anakku lahir ke alam dunia.
Tangan terasa gemetar saat menandatangani surat persetujuan untuk dilakukan operasi itu. Dan Alhamdulillah, tepat pukul 15.15 wib, saat adzan ashar 21 Ramadhan 1415 H/4 Maret 1994 M, suara tangismu terdengar jelas dari balik pintu kaca ruang operasi itu. Subhanallah, Alhamdulillah, engkau lahir dalam keadaan selamat, sehat dan sempurna. Tak terasa bulir-bulir bening menetes diantara bulu-bulu mata babe. Lebih lagi tangis itu berbalut rasa bahagia yang mendalam saat menyaksikan ibu yang mulai siuman dari pengaruh biusnya.

Muhammad Fikriansyah Mabrur Ramadhani Zulqudsie. Itulah nama yang kami sepakati untukmu.

Berhari-hari kita menjalani kebahagiaan. Malam-malam saat tidurmu, kami merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak ada kantuk dan rasa penat saat mendampingi malam-malammu, mengganti popokmu menggendongmu dan menina-bobokanmu.
Tak ada satupun nyamuk yang boleh menggigitmu.
Tak ada satupun suara yang boleh mengganggumu.
Tak ada satupun langkah kaki yang membangunkan tidurmu.

Hari ini,
Bayi kecil dan mungil itu sudah tumbuh remaja
Rasa syukurpun tak terhingga kepadaNya, sang Maha Pencipta dan Maha segalanya….
Berbagai do’a untukmu anakku, dan juga untuk kedua adikmu, Fafa dan Adib….
Agar kalian selalu bahagia dalam kedamaian dan damai dalam kebahagiaan
Agar kalian selalu sehat jasmani dan rohani
Agar kalian selalu beruntung dalam setiap perjuangan
Agar kalian selalu berguna dan bermanfaat untuk sesama

Yaa Rabb,
Bimbinglah mereka menjalani perjalanan hidup yang dilalui
Tunjukanlah mereka jalan yang benar, yang lurus dan Engkau ridhoi
Kenalkan mereka bahwa yang benar itu pastilah benar, dan berilah kemampuan agar mereka mampu mengikutinya.
Kenalkan mereka bahwa yang salah itu pastilah salah, dan berilah kekuatan agar mereka dapat menjauhinya.

Hamba sadar ya Allah, perjalanan hidup ini kadang lurus, menanjak, menurun, berkelok, menikung, dan bertebing. Untuk itu, hanya Engkau yang berkuasa mengarahkan dan menyelamatkan mereka.
Terima kasih kami atas nikmatMU yang begitu besar dan banyak yang telah tercurah kepada kami.
Maafkan dan ampuni kami, manakala tak mampu mensyukuri semua nikmat itu.

Anakku Ryan,
Selamat Ulang Tahun, nak
Selamat Bahagia dan Barakahlah Usiamu
Semoga pula, Qudrat dan Iradat Allah selalu akan menuntunmu


BABE, IBU, FAFA & ADIB
YANG MENCINTAIMU…………..
4 MARET 2010

17 Tahun Aku Mengayuh Bahtera kami


“Saudara ABDUL QUDDUS, saya nikahkan saudara dengan anak perempuan saya bernama SRI ROHYANTI ZULAIKHA dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat, dibayar TUNAI”.

“Saya terima nikahnya, SRI ROHYANTI ZULAIKHA binti Drs. SYAHYANTO, dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat, dibayar TUNAI”.

Dua kalimat yang saling bertautan dan bersahutan itu kembali bergema pada file kenangan yang pernah kulalui dan kini kuputar ulang dalam kehidupanku. Kalimat itu membuat tangan dan hatiku bergetar. Hari Ahad, 21 Februari 1993, pukul 08.15 WIB di hadapan Drs. M. Fathoni, Kepala KUA Kecamatan Depok, disaksikan pula oleh kedua orang tua kami, seluruh sanak keluarga dan para tetangga di sekitar Jl. Anyelir 3/290 Perumnas Condongcatur.

21 Februari 1993, 17 (tujuh belas) tahun yang lalu. Tak ada pesta meriah, tak ada undangan berpita jingga, tak ada tenda biru dan tak ada musik atau qasidah. Suasana ijab qabul pagi itu berlangsung dengan amat sederhana karena ibunda Susilowati dalam keadaan sakit dan baru pulang dari operasi kanker payudara yang dideritanya.
Walau sederhana tanpa pesta, namun tetap membuat aku dan isteriku amat sangat bersyukur karena pernikahan kami dihadiri oleh orang tua kami yang masih lengkap, masih mampu mendampingi kami.

Rumah tanggaku telah melalui perjalanan yang lumayan panjang. Menurun, mendaki, kadang berkelok dan menikung tajam, walau kadang melelahkan. Berasal dari dua suku yang berbeda, Jawa dan Sumatera, adalah sebuah keadaan dan kondisi yang tak mudah kami lalui, perlu perjuangan dan saling pengertian. Alhamdulillah, atas bimbinganNya, kami berhasil secara perlahan melewati berbagai macam tantangan dan halangan yang menghadang.

Alhamdulillah, 3 orang anak laki-laki yang Allah anugerahkan kepada kami dari pernikahan ini membuat kami tak pernah berhenti bersyukur. Anak-anak yang taat dan patuh kepada kami, anak-anak yang santun. Kendatipun kadang-kadang kenakalan kecil yang mereka lakukan membuat aku dan isteriku memarahi mereka. Maafkan Babe anak-anak, kalau selama ini kadang menakutkan kalian. Sungguh, Babe sangat menyayangi kalian.
Berhari-hari dan bermalam-malam, dalam setiaap sujud dan munajat kepada Sang Maha Pencipta, selalu terhampar do’a-doa agar ketiga anak laki-laki yang diamanahkan Allah kepada kami ini, menjadi anak yang berguna untuk kehidupan, di dunia dan di akhirat.
Dalam heningnya malam, dalam munajt kepadaMU ya Rabb...air mata ini sering kali tertumpahkan karena bertumpuknya harapan dan keinginan, yang sekaligus bertumpuknya rasa takutku akan ketidak-sempatanku menyaksikan masa depan mereka. Walau sesungguhnya aku memang sadar, aku memang yakin bahwa masa depan mereka adalah milik mereka. Aku dan isteriku hanya mampu menggagas dan merencanakan, tapi Allah yang Maha Menentukan.

Hari ini, sudah 17 tahun aku mengayuh bahtera kehidupan bersama isteri dan anak-anak kami. Banyak angin dan taupan menghadang. Ada pula karang yang menghempaskan. Tapi, bahteraku terus berlayar. Layar itu semakin berkembang, membawa laju bahteraku mengharungi samudera kehidupan nan teramat luas. Berjuta nikmat yang telah kami coba untuk mensyukurinya, namun sungguh tak mampu kami lakukan karena keterbatasan dan kedha’ifan. Maafkan hamba ya Allah, ya Rabb atas kelemahan dan kekurangan ini. “Rabbanaa auzi’naa an nasykuro ni’matakallatii an’amta ‘alaynaa wa ‘alaa waalidaynaa wa anna’malaa shoolihan tardhoohu, wa adkhilnaa birahmatika fii ‘ibaadikash-shoolihiin” (Ya Rabb, izinkan kami untuk mensyukuri semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami. Dan izinkan pula kami untuk melaksanakan amal sholih yang Engkau ridhoi. Masukkanlah kami dalam golongan hambaMU yang sholih yang Engkau rahmati)



Quddus Zoher,
Sabtu, 20 Februari 2010
(Refleksi menyambut detik-detik 17 tahun usia Pernikahanku dengan SRZ)

Do'a Rabi'ah Al Adawiyyah



Yaa Rabb,
Andai saja aku menyembahMU karena takutku dengan pedihnya adzab Neraka
Maka,
bakarlah aku di dalamnya
hancur leburkan kulit dan dagingku dalam keganasan siksanya
benamkan aku ke dalam jurang curamnya

Yaa Rabb,
Andai saja aku menyembahMU karena keinginanku akan manisnya Sorga
Maka,
jauhkan aku darinya sejauh-jauhnya
singkirkan aku dari kelezatan yang ada di dalamnya
tutupi mataku dari keindahan yang Kau cipta di sana

Namun
Yaa Rabb,
Jika aku menyembahMU karena mengharapkan ridho dariMU
Maka,
Jangan Kau tutupi keindahan abadi itu dariku
Jangan Kau jauhkan aku dari dekapanMU
Jangan Kau lepaskan aku dari lembutnya belaian suciMU
Jangan Kau biarkan aku dalam keresahan dan kegundahan menjalani hidup ini....



Disarikan dari : Do'a Rabi'ah Al 'Adawiyyah (Shufiyyah Islam)
Quddus Zoher, 02 Maret 2010

Matahariku........ (Panas membakar alam Nusa Tenggara Timur)


matahariku,
sinarmu tajam
merobek kabut pagi
mengusap lembut kulit bumi

matahariku,
sorot cahayamu membakar
menebar terang nan garang
menambah benderangnya siang

matahariku,
kutatap putihmu
kubersyukur padaNya
penciptamu dan segala

matahariku,
dari putih cahayamu
duniaku tersenyum ceria
menabur damai dan sejahtera


qudsie zoher
29 April 2010

Di atas Bumi Kupang, di angkasa Pulau Rote (Catatan Kecil Sebuah Perjalanan)


Saat berada di angkasa
Aku serasa melanglang buana, seakan bersayap seperti burung, mampu menerawang ke bawah
Di atas rumah-rumah yang mungil, kendaraan dan manusia yang teramat kecil bahkan tak tampak
Jalan dan sungai hanya tampak bagai garis yang digoreskan di atas kanvas, berkelok-kelok
Aku mengintip dari balik kaca pesawat yang membawaku terbang menuju Kupang Nusa Tenggara Timur

Subhanallah….
Saat aku merasa dalam ketinggian dan menyaksikan semua yang ada di bawah sana sangat kecil
Maka disaat yang sama aku merasa kecil dan kerdil di hadapanMU ya Allah….
Aku merasakan kepasrahan yang teramat dalam
Tafakkur dan dzikirku terhembus dari celah bibir yang kaku membisu
Tawakkalku kubalutkan pada seluruh tubuhku, memenuhi rongga dada
Menghujam dalam-dalam, membuat mata terpejam karena aku semakin kerdil berhadapan denganMU

Aku meyakini bahwa hanya di TanganMU segalanya yaa Rabb
Hanya padaMU semua digantungkan
Tak ada kuasa kecuali KuasaMU
Tak ada kekuatan kecuali KekuatanMU
Tak ada daya kecuali DayaMU
Tak ada kehendak kecuali KehendakMU

Andai saja saat ini, saat pesawatku terbang tinggi, disaat itu Engkau berkehendak, maka KehendakMU pasti akan terjadi
Yaa Rabb
Alangkah sombongnya aku
Alangkah dzalimnya aku
Alangkah nistanya aku
Alangkah berdosanya aku
Alangkah ingkarnya aku
Alangkah kufurnya aku
Manakala sesampainya aku di bawah sana, kepasrahanku menghilang
Manakala pesawat ini mendarat, tafakkur dan dzikirkupun ikut mendarat
Tawakkalku berantakan dan hancur ditelan suara mesin pesawat, menderu di atas hamparan aspal hitam landasan pacu yang pekat

Yaa Rabb
Sesampainya aku di bawah sana,
Ketika kakiku menjejak bumiMU
Tetapkanlah untuk melindungi aku
Walaupun sungguh aku terus malu menatap wajahMU
Karena dha’ifku
Karena lalaiku
Karena ketidaktahuanku
Karena ke-BesaranMU
Karena ke-AgunganMU

Karena aku sangat membutuhkan Cinta dan SayangMU

Qudsie Zoher,
28 April 2010

Emak, Ananda Belum Bisa Pulang.....


Emak,
Seperti lima tahun sebelumnya, tahun ini anakmu belum juga bisa pulang
Sekedaar untuk berziarah ke makammu
Sekedar untuk bersimpuh di depan rumah tinggal jasadmu
Sekedar untuk merasakan denyut nadi jantungku yang menahan butiran bening di mata ini, saat menengadah kepadaNya, kepada Allah Sang Maha Pemberi kebahagiaan.
Sekedar merasakan dengung nyamuk dan sahutan binatang hutan, di sekitar area makammu.

Emak,
Seperti lima tahun yang lalu, anakmu belum bisa berlebaran di tanah lahirnya
Sekedar mencium hangat tangan, kening dan pipi Aba dan para kakak yang dicintai
Sekedar mencium kening dan pipi adik-adik dan para kemenakan
Sekedar bercanda dan berbincang tentang apa saja, ya apa saja...
Sekedar berbagi rasa kangen yang terpendam bertahun lamanya

Emak,
Dari balik photo yang kuambil dari status adikku
Makammu tetap nampak sejuk
Semoga engkau damai di sisi Allah SWT
Semoga engkau bahagia dalam dekapanNya

Emak,
do’a ini terus mengalir, semoga masih ada waktu dan kesempatan untuk aku, anakmu
untuk sekedar mengungkap rasa rindu padamu, dengan berziarah dan bersimpuh di atas makam itu. Amiin....


QZ, 14/09/2010

Desa itu Mati....


Laa haula walaa quwwata illaa billaah

Subhanallah, gemuruh Merapi dengan dentuman dahsyat awan panas membakar
Memporak porandakan hutan dan pemukiman
Jiwa penduduk di lereng itu tak tertolong, bergelimpangan, terbakar hangus dan tak bernyawa
Hewan-hewanpun mengerang dan akhirnya juga mati


Hari ini,
Tak seperti hari-hari kemarin
Dimana tawa canda bahagia para pewisata di hutan Kaliurang itu
Dimana jerit dan pekikan bersahutan para satwa liar hutan lindung itu
Dimana alam indah nan elok menghijau dengan berjuntai pinus-pinus kokoh itu
Dimana jalan dan tikungan beraspal hitam yang berkelok indah itu


Hari ini,
Semua menjadi satu warna, abu-abu
Ya hanya warna itu yang tampak
Jutaan meter kubik batu, kerikil, pasir dan debu telah dimuntahkan Merapi
Meng-abu-abukan semuanya, membakar dan mematikan
Desa-desa itu menjadi mati


Desa itu mati.....
Puluhan desa senyap di malam hari, tanpa suara, tanpa kehidupan
Jangankan suara satwa, suara hewan kecilpun terasa tak terdengar
Semua telah mati
Semua telah sirna
Semua telah pergi
Dalam tragedi dan bencana Merapi kemarin hingga hari ini


Hari ini,
Jutaan mata terbelalak dan mulut ternganga memandang ke arah gunung itu
Benarkah dia marah atas nama tuhannya?
Benarkah manusia sudah semakin tak jera?
Benarkah manusia sudah terlalu banyak durhaka?


Yaa Rabb,
Lindungi kami yang penuh dosa dan nista
Yaa Rabb, Laa taqtulnaa bighadhaabika walaa tuhliqnaa bi’adzaabika wa’aafinaa qabla dzaalik
Jangan bunuh kami dengan murkaMU ya Allah, jangan binasakan kami dengan adzabMU, maafkan kami bilamana kematian akan menjemput....


Jogja, 08/11/10

AQZ



Bagaikan Bunga....


Bagaikan bunga.....
engkau mekar menebar keindahan taman hati di sepanjang hari
engkau menebar harummu dari setiap kelopak mekarmu
engkau menghimpun butiran embun pagi dihalusnya dedaunanmu
engkau merubah kejenuhan menjadi keceriaan alami
engkau membisikkan nyanyian pagi yang syahdu menyambut hari

Bagaikan bunga.....
memandangmu aku tersipu malu
cemberutku terpaksa kusimpan
gundahku tak mampu kumuntahkan
gelisahku tak kuasa kutampakkan
sedihku berubah menjadi bahagia
karenamu bunga.....
karena indahmu yang mengoyak nestapaku

Jogja,
24/11/2010
zulqudsie