
Anakku tersayang,
Bila kuandaikan kami, orangtuamu, sebagai embun
kami adalah embun yang sudah mulai mengering karena tajamnya sorot mentari
yang coba bertahan dengan sisa kelembabannya yang coba memberdayakan diri dalam kehampaannya Bila kuandaikan kami sebagai bunga,
kami adalah bunga yang hampir layu dan lesu yang mengharap kecup embun penyegar yang mendamba siraman hujan di tengah garangnya kemarau
yang tengadah dalam kekakuan dan kebisuan kelopaknya
Kami memang salah nak,terlalu banyak berharap padamu, belahan hati kami yang telah berjuang meniti cita-cita
Kami memang salah,
karena mengharap pamrih dari tetes keringat dan air mata yang telah dengan ikhlas kami curahkan untuk darah daging kami, yang kami cintai, walau kami sadar bahwa kami tak boleh banyak berharap dan meminta !
Tapi salahkah kami,
bila berharap akan hasil jerih payah kami yang terukir dalam hati dan perasaan sebagai orangtua yang telah memberikan berjuta kasih sayang dan pengorbanan untuk anak buah hatinya ?
Salahkah kami,
bila berharap akan jawaban dari do’a-do’a yang selalu kami panjatkan dalam setiap sujud kami kepada Sang Maha Pencipta ?
Salahkah kami,
bila mendambakan kebahagiaan hari esokmu yang nanti akan kau jalani tanpa kami.
Dalam kesendirian tanpa kemanjaan, karena kita menyadari, bahwa lambat atau cepat kita pasti akan terpisah oleh proses kehidupan dan kematian
Anakku
Pancaran ilahiyah kehidupan kami
Saat ini kami sudah tak mampu lagi membelai manja rambutmu
tak bisa lagi mengatur permainanmu seperti dulu ketika engkau masih kanak-kanak
Kami sudah tak sanggup lagi memaksakan keinginan kami untuk mengarahkan jejak kaki kehidupanmu, karena engkau mulai tumbuh menjadi lelaki dewasa, sudah mampu berbuat untuk dirimu sendiri
Ketika mendidik dan menemui kehidupanmu
kami bisa menyadari akan perjuangan orangtua kami dulu
sehingga kamipun rela menderita asal engkau bahagia
kami rela tak makan asalkan engkau kenyang
kami sanggup tak berpakaian asal ananda senang
kami ikhlas merasakan sakit asal engkau tetap sehat nak ! bahkan ibumu, ia rela pertaruhkan nyawanya ketika melahirkanmu
sampai dagingnya diguntingpun ia coba bertahan asal engkau selamat lahir ke alam dunia ini
Anakku,
cahaya penerang dan mutiara rumah tangga kami, dalam setiap penderitaan yang kami hadapi, ada kebahagiaan ketika menyaksikan eng kau berangkat sekolah
kami sadar dan maklum ketika melihat engkau gagal dalam studi
itu bukan berarti engkau tak mampu, tapi pelajaranmu memang sulit
ketika mendengar engkau tak mampu mencapai prestasi, kami memahami kalau memang temanmu lebih pandai dan ketika sampai berita bahwa engkau melakukan suatu
dosa kami sadar bahwa engkau sesungguhnya tidak bersalah, tapi lingkunganlah yang menyebabkan engkau terjerumus kejurang itu
kamipun tak pernah menyalahkanmu, karena kami sadar mungkin itu disebabkan oleh kekurangmampuan kami mendidik dan membimbing-mu
Tak kelu lidah kami berdo’a
tak henti kami bermunajat
agar engkau mampu menghadapi setiap tantangan hidup
agar engkau tabah dan sabar meniti cobaan yang datang sehingga kami bisa bahagia dengan tangis kebanggaan bila menyaksikan engkau berhasil melangkah ke arah kehidupan yang lebih baik untuk masa depanmu
Anakku yang tercinta,
Bila kuandaikan engkau matahari, kehadiranmu dinanti setiap pagi
menerangi keluarga dengan sinar kedamaian
mengganti kegelapan dengan kilau cahayamu yang tegar mengusap kulit bumi dalam kelembutan
menyinari pasir pantai hati kami menjadi indah bagai kemilau mutiara mutu manikam
Dibalik setiap harapan panjang kami
terbersit do’a agar engkau kokoh bagai pohon dalam firman Tuhan,
akarnya menghujam ke dasar bumi
dahannya menjulang mencakar langit
Sehingga, sekuat apapun badai menghantam engkau tetap tegar dan tak mudah tumbang Alangkah bahagia hati ini, melihat engkau sukses menyaksikan hasil jerih payah pengorbanan kami, yang telah kami lalui dengan guyuran keringat dan tumpahan airmata
yang telah kami tebus dengan sejuta perjuangan dan pengorbanan
yang telah ditebus dengan tetes darah ibumu, antara lengking kepedihan dan jerit kesakitannya
Dan, diantara kekhawatiran kami akan dirimu kami tetap berharap sekali ini saja,
sedikit saja
pada kesadaranmu akan harapan dan dambaan kami semoga engkau mantapkan langkah meniti jalanmu
Selamat berjuang anakku, melangkahlah dalam iringan do’a kami