Jejawi, sebuah desa kecil di tepian sungai Ogan, anak dari sungai Musi. Desa ini berada di wilayah Kabupaten Ogan dan Komering Ilir Sumatera Selatan. Inilah desaku, tempat aku dilahirkan oleh seorang wanita yang taat dan tulus dalam menjalani kehidupannya, Siti Rukiyah namanya, wanita yang kami panggil EMAK.
Aku dilahirkan pada hari Ahad, 4 Juni 1967, anak ketiga dari sembilan bersaudara. Aku anak laki-laki pertama di keluargaku. Aku lahir dan dibesarkan dalam didikan dan binaan seorang laki-laki tegas, berwibawa, bertekad kuat dan penuh disiplin. Muhammad Zoher Damiri, seorang ayah yang kami panggil dengan sebutan ABA.
Hari-hari di masa kanak-kanakku, kunikmati sebagaimana anak-anak di desaku menikmati masa kecil mereka. Bermain dan mandi di keruhnya air sungai Ogan yang kecoklatan. Mencari burung di hutan bagian selatan desaku setiap pulang sekolah. Bermain kelereng dan “pantak lele” (permainan ala desaku dengan alat dua batang kayu, panjang dan pendek). Mencari mangga, kebembem atau buah-buahan lainnya di kebun warga kampung atau kebun temanku. Sering juga masa-masa kecil itu kuisi dengan mencari burung “ayam-ayam” (burung sawah) bersama ABAku di sawah milik nenekku, sambil mencari ikan “tempalo” (ikan air sungai yg bersirip indah).
Bila malam mulai menjelang, tibalah kewajibanku bersama teman-temanku untuk ke masjid, menegakkan sholat dan mengaji di bawah asuhan Kyai Haji Hambali, Kyai Muhammad, Kyai Arsyad Midun, Kyai Haji Mustafa, dan juga ABAku, yang biasa dipanggil Kyai Zuher.
Masa-masa indah di masa kecilku ini berlangsung sampai aku menamatkan sekolah di Sekolah Dasar Negeri Jejawi dan dari Madrasah Ibtidaiyyah “Roudhotuththolibin” Jejawi.
1979, di usiaku yang baru sebelas tahun. Sejak itulah aku mulai meninggalkan masa kanak-kanakku. Aku memulai kehidupanku di Pondok Pesantren. Pesantren “Wali Sanga”, Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantren Modern “Darussalam”, Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Kemudian aku pulang ke Palembang, ibukota Propinsi kelahiranku, mengabdikan ilmuku, sembari “mencari” ijazah Tsanawiyah di Pondok Pesantren “Ar Riyadh”, dan ijazah ‘Aliyah di Madrasah .Aliyah Negeri I Palembang, Sumatera Selatan.
1987, aku kembali merantau, meninggalkan kota Palembang. Kota yang mengukir berjuta kenangan di masa remajaku. Kupilih Jogja untuk meneruskan pendidikanku. Alhamdulillah aku diterima di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga. Kupilih Fakultas Syari’ah Jurusan Peradilan Agama, karena aku bercita-cita menjadi seorang Hakim. Hari-hariku di Jogja kujalani dengan semangat untuk menyelesaikan studiku, kemudian siap berkompetisi di dunia kerja. Alhamdulillah, 20 Februari 1993 aku diwisuda dan menyandang gelar sarjana. Wisuda yang berlangsung dalam kegembiraan. Ikut hadir kedua orangtuaku, ABA dan EMAK, ayuk-ayukku, tanteku dan adik-adikku. Kawan-kawan koskupun tak ketinggalan ikut hadir menyaksikan kegembiraan itu. 21 Februari 1993, sehari setelah wisuda, aku ditakdirkan Allah menikahi seorang wanita berdarah jawa, Sri Rohyanti Zulaikha binti Syahyanto. Teman kampusku Alumni Fakultas Tarbiyah Jurusan Tadris Bahasa Inggris. Lengkaplah kegembiraanku di bulan Februari 1993 itu. Mendapat gelar Sarjana dan mendapat isteri cantik, dan menjalani hidup baru dalam rumah tangga.
2 bulan setelah menamatkan kuliah, aku mendapat tawaran menjadi guru Bahasa Arab di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Aku sangat bahagia, demikian pula isteriku. Dan ternyata dari sanalah masa depanku dimulai. Sebab, setahun setelah menjadi guru, aku gagal dalam ujian akhir menjadi Hakim di Jakarta. Birokrasi yang penuh korup membuat aku tak sanggup menjalaninya.
Jum’at 4 Maret 1994, pukul 15.00 WIB, Allah menganugerahi kami anak laki-laki yang mungil dan ganteng. Kuberi dia nama Muhammad Fikriansyah Mabrur Ramadhani Zulqudsie, RYAN, panggilan sayang kami untuknya. Kuberi dia sebuah nama yang cukup panjang, penuh do’a dan harapan. Anak yang kelak kuharapkan mampu menggantikan aku, pada saatnya nanti, setelah aku tua dan mati.
Di usia anakku 1,5 tahun, aku harus berpisah dengannya, karena ia menemani ibunya ke Jakarta untuk mengikuti Ikatan Dinas di Program Studi Khusus Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia, Depok. Berhari-hari selama 2 tahun aku kembali menjadi anak kos. Dua kali dalam sebulan aku harus ke Jakarta melepas kangenku pada isteri dan anakku. Perjuangan isteriku menjalani ikatan dinasnya cukup melelahkan dan kami jalani semua dalam kebersamaan, dalam kerinduan yg selalu datang, menghiasi jarak kami yang terpisah antara Jogja dan Jakarta.
1997 isteriku kembali ke Jogja dan mulai bekerja di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kemudian pada April 1998, atas kehendak Allah, aku berhasil menyisihkan beberapa calon peserta untuk mengikuti program persahabatan Indonesia – Jepang dalam “The Friendship Programme for the 21st Century Indonesia – Japan” di 5 Propinsi di Jepang.
Sabtu 5 September 1998, pukul 09.30 WIB, Allah kembali menganugerahi kami anak laki-laki yang mungil, gendut dan kuberi nama Muhammad Farhan Zhulalul Azmi Zulqudsie. Aku juga berharap anakku ini kelak akan meneruskan garis keturunan generasiku, menuju masa depan yang berkesinambungan, bersama kakaknya. FAFA, itulah panggilan sayang kami untuknya.
Jum’at 3 April 2003, pukul 10.00 WIB, kami mendapat karunia yang membahagiakan dengan lahirnya bayi mungil, bertubuh gempal, kuberi nama Muhammad Faiz Reyhan El Adiby Zulqudsie. Sungguh, harapan kami, dia kelak akan menjadi pengawal bagi kedua orangtuanya dan pendamping kedua kakaknya dalam mengemban misi masa depan keluarga. ADIB itulah panggilan sayang kami kepadanya.
Hari ini, saat tulisan ini kubuat, anak sulungku RYAN sudah berusia 18 tahun. Ia sudah tumbuh dewasa, bahkan lebih cepat dari usianya. Anakku yang kami banggakan. Anak yang mengerti dan memahami keadaan kami, tanpa harus kami ceritakan tentang kami padanya. Kini dia di Gontor, mengabdikan ilmunya di almamater yg membesarkannya dan yang juga pernah membesarkan Babenya.
FAFA, anak keduaku sudah duduk di kelas I SMP Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta, dia anak yang lucu dan pandai bergaul. Selalu menghiasi hari-harinya dalam keceriaan sesuai namanya Farhan (yang selalu ceria, bahagia). Anak yang sangat perasa. Hatinya mudah luluh dan tersentuh bila menyaksikan kesedihanku, kesedihan kami, atau kesedihan siapapun. Humoris, santai dan percaya dirinya, hampir mirip dengan aku. Kadang aku seakan berkaca melihat diriku sendiri, melihat masa kecilku. Semoga dia juga sepandai dan seberuntung RYAN kakaknya.
ADIB, anak bungsuku yang hebat ini sudah duduk di kelas 3 SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Ketajaman akalnya dalam berkreasi dan mengolah imajinasi kadangkala membuatku tersentak kagum. Anakku ini mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Jiwa yang tak ingin gagal selalu menyertai hari-harinya. Hampir mirip dengan RYAN kakaknya.
Semoga ketiga anak kami selalu dalam pemeliharaan Allah, dalam lindunganNya. Dalam bahagia yang diridhoiNya, dalam kesusahan yang didampingiNya. Semoga pula Allah berkenan memberikan padaku, pada isteriku usia yang panjang dan bermanfaat dan dapat menyaksikan, menjalani dan mendampingi anak-anak kami menikmati masa depan mereka.
Desember 2007 M./ Dzulhijjah 1428 H., aku dan isteriku ditakdirkan Allah menunaikan ibadah Haji di Makkah al Mukarromah dan berziarah ke Madinaturrasul di Madinah al Munawwarah. Kebahagiaan dalam ibadah tertumpah. Jutaan bait do’a kami sampaikan kepadaNya. Kucuran airmata seakan tak habis-habisnya tertumpah di ‘Arafah, di Multazam, di Mina, di Mudzdalifah bahkan setiap kali Thawaf di sekeliling Ka’bah Baitullah. Di Masjid Nabawipun, do’a-do’a itu tertumpahkan, terbentang menghampar di Raudhoh, dikala sujud dan bersimpuh kepada Sang Maha Segala, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hari Senin 4 Juni 2012 tahun ini, usiaku 45 tahun. Sudah cukup tua aku. Rambutku sudah semakin memutih. Penyakitpun sudah mulai menampakkan diri. Makan sudah harus memilah dan memilih. Berjalanpun tak bisa jauh, apalagi berlari. Aaaaah duniaku, inilah gambaran yang pernah difirmankan Allah dalam kitab suciNya itu, bahwa aku tak lagi hijau. Umurku sudah mulai menapaki warna kekuningan, walau mungkin masih cukup segar, belum kering. Semoga aku tetap diberiNya kekuatan, kesehatan dan kecerdasan untuk menikmati masa indah bersama isteri dan anak-anakku.
“Rabbi auzi’nii an asykuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa adkhilni birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihin”
Ya Allah, izinkan aku untuk mampu mensyukuri nikmatMU yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku. Izinkan pula aku berkemampuan menjalankan amal sholih yang Kau ridhoi. Masukkanlah aku dengan rahmatMU ke dalam golongan hambaMU yang sholih.
Jogja, 29 Mei 2012
qudsie_z@yahoo.com
Jumat, 15 Juni 2012
MENYONSONG 45 TAHUN USIAKU
Jejawi, sebuah desa kecil di tepian sungai Ogan, anak dari sungai Musi. Desa ini berada di wilayah Kabupaten Ogan dan Komering Ilir Sumatera Selatan. Inilah desaku, tempat aku dilahirkan oleh seorang wanita yang taat dan tulus dalam menjalani kehidupannya, Siti Rukiyah namanya, wanita yang kami panggil EMAK.
Aku dilahirkan pada hari Ahad, 4 Juni 1967, anak ketiga dari sembilan bersaudara. Aku anak laki-laki pertama di keluargaku. Aku lahir dan dibesarkan dalam didikan dan binaan seorang laki-laki tegas, berwibawa, bertekad kuat dan penuh disiplin. Muhammad Zoher Damiri, seorang ayah yang kami panggil dengan sebutan ABA.
Hari-hari di masa kanak-kanakku, kunikmati sebagaimana anak-anak di desaku menikmati masa kecil mereka. Bermain dan mandi di keruhnya air sungai Ogan yang kecoklatan. Mencari burung di hutan bagian selatan desaku setiap pulang sekolah. Bermain kelereng dan “pantak lele” (permainan ala desaku dengan alat dua batang kayu, panjang dan pendek). Mencari mangga, kebembem atau buah-buahan lainnya di kebun warga kampung atau kebun temanku. Sering juga masa-masa kecil itu kuisi dengan mencari burung “ayam-ayam” (burung sawah) bersama ABAku di sawah milik nenekku, sambil mencari ikan “tempalo” (ikan air sungai yg bersirip indah).
Bila malam mulai menjelang, tibalah kewajibanku bersama teman-temanku untuk ke masjid, menegakkan sholat dan mengaji di bawah asuhan Kyai Haji Hambali, Kyai Muhammad, Kyai Arsyad Midun, Kyai Haji Mustafa, dan juga ABAku, yang biasa dipanggil Kyai Zuher.
Masa-masa indah di masa kecilku ini berlangsung sampai aku menamatkan sekolah di Sekolah Dasar Negeri Jejawi dan dari Madrasah Ibtidaiyyah “Roudhotuththolibin” Jejawi.
1979, di usiaku yang baru sebelas tahun. Sejak itulah aku mulai meninggalkan masa kanak-kanakku. Aku memulai kehidupanku di Pondok Pesantren. Pesantren “Wali Sanga”, Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantren Modern “Darussalam”, Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Kemudian aku pulang ke Palembang, ibukota Propinsi kelahiranku, mengabdikan ilmuku, sembari “mencari” ijazah Tsanawiyah di Pondok Pesantren “Ar Riyadh”, dan ijazah ‘Aliyah di Madrasah .Aliyah Negeri I Palembang, Sumatera Selatan.
1987, aku kembali merantau, meninggalkan kota Palembang. Kota yang mengukir berjuta kenangan di masa remajaku. Kupilih Jogja untuk meneruskan pendidikanku. Alhamdulillah aku diterima di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga. Kupilih Fakultas Syari’ah Jurusan Peradilan Agama, karena aku bercita-cita menjadi seorang Hakim. Hari-hariku di Jogja kujalani dengan semangat untuk menyelesaikan studiku, kemudian siap berkompetisi di dunia kerja. Alhamdulillah, 20 Februari 1993 aku diwisuda dan menyandang gelar sarjana. Wisuda yang berlangsung dalam kegembiraan. Ikut hadir kedua orangtuaku, ABA dan EMAK, ayuk-ayukku, tanteku dan adik-adikku. Kawan-kawan koskupun tak ketinggalan ikut hadir menyaksikan kegembiraan itu. 21 Februari 1993, sehari setelah wisuda, aku ditakdirkan Allah menikahi seorang wanita berdarah jawa, Sri Rohyanti Zulaikha binti Syahyanto. Teman kampusku Alumni Fakultas Tarbiyah Jurusan Tadris Bahasa Inggris. Lengkaplah kegembiraanku di bulan Februari 1993 itu. Mendapat gelar Sarjana dan mendapat isteri cantik, dan menjalani hidup baru dalam rumah tangga.
2 bulan setelah menamatkan kuliah, aku mendapat tawaran menjadi guru Bahasa Arab di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Aku sangat bahagia, demikian pula isteriku. Dan ternyata dari sanalah masa depanku dimulai. Sebab, setahun setelah menjadi guru, aku gagal dalam ujian akhir menjadi Hakim di Jakarta. Birokrasi yang penuh korup membuat aku tak sanggup menjalaninya.
Jum’at 4 Maret 1994, pukul 15.00 WIB, Allah menganugerahi kami anak laki-laki yang mungil dan ganteng. Kuberi dia nama Muhammad Fikriansyah Mabrur Ramadhani Zulqudsie, RYAN, panggilan sayang kami untuknya. Kuberi dia sebuah nama yang cukup panjang, penuh do’a dan harapan. Anak yang kelak kuharapkan mampu menggantikan aku, pada saatnya nanti, setelah aku tua dan mati.
Di usia anakku 1,5 tahun, aku harus berpisah dengannya, karena ia menemani ibunya ke Jakarta untuk mengikuti Ikatan Dinas di Program Studi Khusus Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia, Depok. Berhari-hari selama 2 tahun aku kembali menjadi anak kos. Dua kali dalam sebulan aku harus ke Jakarta melepas kangenku pada isteri dan anakku. Perjuangan isteriku menjalani ikatan dinasnya cukup melelahkan dan kami jalani semua dalam kebersamaan, dalam kerinduan yg selalu datang, menghiasi jarak kami yang terpisah antara Jogja dan Jakarta.
1997 isteriku kembali ke Jogja dan mulai bekerja di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kemudian pada April 1998, atas kehendak Allah, aku berhasil menyisihkan beberapa calon peserta untuk mengikuti program persahabatan Indonesia – Jepang dalam “The Friendship Programme for the 21st Century Indonesia – Japan” di 5 Propinsi di Jepang.
Sabtu 5 September 1998, pukul 09.30 WIB, Allah kembali menganugerahi kami anak laki-laki yang mungil, gendut dan kuberi nama Muhammad Farhan Zhulalul Azmi Zulqudsie. Aku juga berharap anakku ini kelak akan meneruskan garis keturunan generasiku, menuju masa depan yang berkesinambungan, bersama kakaknya. FAFA, itulah panggilan sayang kami untuknya.
Jum’at 3 April 2003, pukul 10.00 WIB, kami mendapat karunia yang membahagiakan dengan lahirnya bayi mungil, bertubuh gempal, kuberi nama Muhammad Faiz Reyhan El Adiby Zulqudsie. Sungguh, harapan kami, dia kelak akan menjadi pengawal bagi kedua orangtuanya dan pendamping kedua kakaknya dalam mengemban misi masa depan keluarga. ADIB itulah panggilan sayang kami kepadanya.
Hari ini, saat tulisan ini kubuat, anak sulungku RYAN sudah berusia 18 tahun. Ia sudah tumbuh dewasa, bahkan lebih cepat dari usianya. Anakku yang kami banggakan. Anak yang mengerti dan memahami keadaan kami, tanpa harus kami ceritakan tentang kami padanya. Kini dia di Gontor, mengabdikan ilmunya di almamater yg membesarkannya dan yang juga pernah membesarkan Babenya.
FAFA, anak keduaku sudah duduk di kelas I SMP Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta, dia anak yang lucu dan pandai bergaul. Selalu menghiasi hari-harinya dalam keceriaan sesuai namanya Farhan (yang selalu ceria, bahagia). Anak yang sangat perasa. Hatinya mudah luluh dan tersentuh bila menyaksikan kesedihanku, kesedihan kami, atau kesedihan siapapun. Humoris, santai dan percaya dirinya, hampir mirip dengan aku. Kadang aku seakan berkaca melihat diriku sendiri, melihat masa kecilku. Semoga dia juga sepandai dan seberuntung RYAN kakaknya.
ADIB, anak bungsuku yang hebat ini sudah duduk di kelas 3 SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Ketajaman akalnya dalam berkreasi dan mengolah imajinasi kadangkala membuatku tersentak kagum. Anakku ini mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Jiwa yang tak ingin gagal selalu menyertai hari-harinya. Hampir mirip dengan RYAN kakaknya.
Semoga ketiga anak kami selalu dalam pemeliharaan Allah, dalam lindunganNya. Dalam bahagia yang diridhoiNya, dalam kesusahan yang didampingiNya. Semoga pula Allah berkenan memberikan padaku, pada isteriku usia yang panjang dan bermanfaat dan dapat menyaksikan, menjalani dan mendampingi anak-anak kami menikmati masa depan mereka.
Desember 2007 M./ Dzulhijjah 1428 H., aku dan isteriku ditakdirkan Allah menunaikan ibadah Haji di Makkah al Mukarromah dan berziarah ke Madinaturrasul di Madinah al Munawwarah. Kebahagiaan dalam ibadah tertumpah. Jutaan bait do’a kami sampaikan kepadaNya. Kucuran airmata seakan tak habis-habisnya tertumpah di ‘Arafah, di Multazam, di Mina, di Mudzdalifah bahkan setiap kali Thawaf di sekeliling Ka’bah Baitullah. Di Masjid Nabawipun, do’a-do’a itu tertumpahkan, terbentang menghampar di Raudhoh, dikala sujud dan bersimpuh kepada Sang Maha Segala, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hari Senin 4 Juni 2012 tahun ini, usiaku 45 tahun. Sudah cukup tua aku. Rambutku sudah semakin memutih. Penyakitpun sudah mulai menampakkan diri. Makan sudah harus memilah dan memilih. Berjalanpun tak bisa jauh, apalagi berlari. Aaaaah duniaku, inilah gambaran yang pernah difirmankan Allah dalam kitab suciNya itu, bahwa aku tak lagi hijau. Umurku sudah mulai menapaki warna kekuningan, walau mungkin masih cukup segar, belum kering. Semoga aku tetap diberiNya kekuatan, kesehatan dan kecerdasan untuk menikmati masa indah bersama isteri dan anak-anakku.
“Rabbi auzi’nii an asykuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa adkhilni birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihin”
Ya Allah, izinkan aku untuk mampu mensyukuri nikmatMU yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku. Izinkan pula aku berkemampuan menjalankan amal sholih yang Kau ridhoi. Masukkanlah aku dengan rahmatMU ke dalam golongan hambaMU yang sholih.
Jogja, 29 Mei 2012
qudsie_z@yahoo.com
Jejawi, sebuah desa kecil di tepian sungai Ogan, anak dari sungai Musi. Desa ini berada di wilayah Kabupaten Ogan dan Komering Ilir Sumatera Selatan. Inilah desaku, tempat aku dilahirkan oleh seorang wanita yang taat dan tulus dalam menjalani kehidupannya, Siti Rukiyah namanya, wanita yang kami panggil EMAK.
Aku dilahirkan pada hari Ahad, 4 Juni 1967, anak ketiga dari sembilan bersaudara. Aku anak laki-laki pertama di keluargaku. Aku lahir dan dibesarkan dalam didikan dan binaan seorang laki-laki tegas, berwibawa, bertekad kuat dan penuh disiplin. Muhammad Zoher Damiri, seorang ayah yang kami panggil dengan sebutan ABA.
Hari-hari di masa kanak-kanakku, kunikmati sebagaimana anak-anak di desaku menikmati masa kecil mereka. Bermain dan mandi di keruhnya air sungai Ogan yang kecoklatan. Mencari burung di hutan bagian selatan desaku setiap pulang sekolah. Bermain kelereng dan “pantak lele” (permainan ala desaku dengan alat dua batang kayu, panjang dan pendek). Mencari mangga, kebembem atau buah-buahan lainnya di kebun warga kampung atau kebun temanku. Sering juga masa-masa kecil itu kuisi dengan mencari burung “ayam-ayam” (burung sawah) bersama ABAku di sawah milik nenekku, sambil mencari ikan “tempalo” (ikan air sungai yg bersirip indah).
Bila malam mulai menjelang, tibalah kewajibanku bersama teman-temanku untuk ke masjid, menegakkan sholat dan mengaji di bawah asuhan Kyai Haji Hambali, Kyai Muhammad, Kyai Arsyad Midun, Kyai Haji Mustafa, dan juga ABAku, yang biasa dipanggil Kyai Zuher.
Masa-masa indah di masa kecilku ini berlangsung sampai aku menamatkan sekolah di Sekolah Dasar Negeri Jejawi dan dari Madrasah Ibtidaiyyah “Roudhotuththolibin” Jejawi.
1979, di usiaku yang baru sebelas tahun. Sejak itulah aku mulai meninggalkan masa kanak-kanakku. Aku memulai kehidupanku di Pondok Pesantren. Pesantren “Wali Sanga”, Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantren Modern “Darussalam”, Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Kemudian aku pulang ke Palembang, ibukota Propinsi kelahiranku, mengabdikan ilmuku, sembari “mencari” ijazah Tsanawiyah di Pondok Pesantren “Ar Riyadh”, dan ijazah ‘Aliyah di Madrasah .Aliyah Negeri I Palembang, Sumatera Selatan.
1987, aku kembali merantau, meninggalkan kota Palembang. Kota yang mengukir berjuta kenangan di masa remajaku. Kupilih Jogja untuk meneruskan pendidikanku. Alhamdulillah aku diterima di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga. Kupilih Fakultas Syari’ah Jurusan Peradilan Agama, karena aku bercita-cita menjadi seorang Hakim. Hari-hariku di Jogja kujalani dengan semangat untuk menyelesaikan studiku, kemudian siap berkompetisi di dunia kerja. Alhamdulillah, 20 Februari 1993 aku diwisuda dan menyandang gelar sarjana. Wisuda yang berlangsung dalam kegembiraan. Ikut hadir kedua orangtuaku, ABA dan EMAK, ayuk-ayukku, tanteku dan adik-adikku. Kawan-kawan koskupun tak ketinggalan ikut hadir menyaksikan kegembiraan itu. 21 Februari 1993, sehari setelah wisuda, aku ditakdirkan Allah menikahi seorang wanita berdarah jawa, Sri Rohyanti Zulaikha binti Syahyanto. Teman kampusku Alumni Fakultas Tarbiyah Jurusan Tadris Bahasa Inggris. Lengkaplah kegembiraanku di bulan Februari 1993 itu. Mendapat gelar Sarjana dan mendapat isteri cantik, dan menjalani hidup baru dalam rumah tangga.
2 bulan setelah menamatkan kuliah, aku mendapat tawaran menjadi guru Bahasa Arab di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Aku sangat bahagia, demikian pula isteriku. Dan ternyata dari sanalah masa depanku dimulai. Sebab, setahun setelah menjadi guru, aku gagal dalam ujian akhir menjadi Hakim di Jakarta. Birokrasi yang penuh korup membuat aku tak sanggup menjalaninya.
Jum’at 4 Maret 1994, pukul 15.00 WIB, Allah menganugerahi kami anak laki-laki yang mungil dan ganteng. Kuberi dia nama Muhammad Fikriansyah Mabrur Ramadhani Zulqudsie, RYAN, panggilan sayang kami untuknya. Kuberi dia sebuah nama yang cukup panjang, penuh do’a dan harapan. Anak yang kelak kuharapkan mampu menggantikan aku, pada saatnya nanti, setelah aku tua dan mati.
Di usia anakku 1,5 tahun, aku harus berpisah dengannya, karena ia menemani ibunya ke Jakarta untuk mengikuti Ikatan Dinas di Program Studi Khusus Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia, Depok. Berhari-hari selama 2 tahun aku kembali menjadi anak kos. Dua kali dalam sebulan aku harus ke Jakarta melepas kangenku pada isteri dan anakku. Perjuangan isteriku menjalani ikatan dinasnya cukup melelahkan dan kami jalani semua dalam kebersamaan, dalam kerinduan yg selalu datang, menghiasi jarak kami yang terpisah antara Jogja dan Jakarta.
1997 isteriku kembali ke Jogja dan mulai bekerja di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kemudian pada April 1998, atas kehendak Allah, aku berhasil menyisihkan beberapa calon peserta untuk mengikuti program persahabatan Indonesia – Jepang dalam “The Friendship Programme for the 21st Century Indonesia – Japan” di 5 Propinsi di Jepang.
Sabtu 5 September 1998, pukul 09.30 WIB, Allah kembali menganugerahi kami anak laki-laki yang mungil, gendut dan kuberi nama Muhammad Farhan Zhulalul Azmi Zulqudsie. Aku juga berharap anakku ini kelak akan meneruskan garis keturunan generasiku, menuju masa depan yang berkesinambungan, bersama kakaknya. FAFA, itulah panggilan sayang kami untuknya.
Jum’at 3 April 2003, pukul 10.00 WIB, kami mendapat karunia yang membahagiakan dengan lahirnya bayi mungil, bertubuh gempal, kuberi nama Muhammad Faiz Reyhan El Adiby Zulqudsie. Sungguh, harapan kami, dia kelak akan menjadi pengawal bagi kedua orangtuanya dan pendamping kedua kakaknya dalam mengemban misi masa depan keluarga. ADIB itulah panggilan sayang kami kepadanya.
Hari ini, saat tulisan ini kubuat, anak sulungku RYAN sudah berusia 18 tahun. Ia sudah tumbuh dewasa, bahkan lebih cepat dari usianya. Anakku yang kami banggakan. Anak yang mengerti dan memahami keadaan kami, tanpa harus kami ceritakan tentang kami padanya. Kini dia di Gontor, mengabdikan ilmunya di almamater yg membesarkannya dan yang juga pernah membesarkan Babenya.
FAFA, anak keduaku sudah duduk di kelas I SMP Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta, dia anak yang lucu dan pandai bergaul. Selalu menghiasi hari-harinya dalam keceriaan sesuai namanya Farhan (yang selalu ceria, bahagia). Anak yang sangat perasa. Hatinya mudah luluh dan tersentuh bila menyaksikan kesedihanku, kesedihan kami, atau kesedihan siapapun. Humoris, santai dan percaya dirinya, hampir mirip dengan aku. Kadang aku seakan berkaca melihat diriku sendiri, melihat masa kecilku. Semoga dia juga sepandai dan seberuntung RYAN kakaknya.
ADIB, anak bungsuku yang hebat ini sudah duduk di kelas 3 SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Ketajaman akalnya dalam berkreasi dan mengolah imajinasi kadangkala membuatku tersentak kagum. Anakku ini mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Jiwa yang tak ingin gagal selalu menyertai hari-harinya. Hampir mirip dengan RYAN kakaknya.
Semoga ketiga anak kami selalu dalam pemeliharaan Allah, dalam lindunganNya. Dalam bahagia yang diridhoiNya, dalam kesusahan yang didampingiNya. Semoga pula Allah berkenan memberikan padaku, pada isteriku usia yang panjang dan bermanfaat dan dapat menyaksikan, menjalani dan mendampingi anak-anak kami menikmati masa depan mereka.
Desember 2007 M./ Dzulhijjah 1428 H., aku dan isteriku ditakdirkan Allah menunaikan ibadah Haji di Makkah al Mukarromah dan berziarah ke Madinaturrasul di Madinah al Munawwarah. Kebahagiaan dalam ibadah tertumpah. Jutaan bait do’a kami sampaikan kepadaNya. Kucuran airmata seakan tak habis-habisnya tertumpah di ‘Arafah, di Multazam, di Mina, di Mudzdalifah bahkan setiap kali Thawaf di sekeliling Ka’bah Baitullah. Di Masjid Nabawipun, do’a-do’a itu tertumpahkan, terbentang menghampar di Raudhoh, dikala sujud dan bersimpuh kepada Sang Maha Segala, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hari Senin 4 Juni 2012 tahun ini, usiaku 45 tahun. Sudah cukup tua aku. Rambutku sudah semakin memutih. Penyakitpun sudah mulai menampakkan diri. Makan sudah harus memilah dan memilih. Berjalanpun tak bisa jauh, apalagi berlari. Aaaaah duniaku, inilah gambaran yang pernah difirmankan Allah dalam kitab suciNya itu, bahwa aku tak lagi hijau. Umurku sudah mulai menapaki warna kekuningan, walau mungkin masih cukup segar, belum kering. Semoga aku tetap diberiNya kekuatan, kesehatan dan kecerdasan untuk menikmati masa indah bersama isteri dan anak-anakku.
“Rabbi auzi’nii an asykuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa adkhilni birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihin”
Ya Allah, izinkan aku untuk mampu mensyukuri nikmatMU yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku. Izinkan pula aku berkemampuan menjalankan amal sholih yang Kau ridhoi. Masukkanlah aku dengan rahmatMU ke dalam golongan hambaMU yang sholih.
Jogja, 29 Mei 2012
qudsie_z@yahoo.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar