“Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak
terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau
makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan
atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga.
Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10
trilyun sel otak saat itu juga.”
Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu
bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Gliot,
berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa
golden age (2-5 tahun pertama kehidupan, ed.), suara keras dan membentak yang
keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan
pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak
terbentuk indah.
Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya
dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor
komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan
otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah,
namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah
menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna.
Ini baru teriakan,” ujarnya.
Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak
sangat mempengaruhi perkembangan otak anak. Jika ini dilakukan secara tak
terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri.
“Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anak,” Tidak hanya itu, juga
mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tapi juga hati,
jantung dan lainnya.
Teriakan dan Bentakan menghasilkan gelombang suara. Ya, hampir
semua orang mengetahui itu. Yang belum banyak diketahui orang banyak adalah,
bentakan yang disertai emosi seperti marah menghasilkan suatu gelombang baru.
Emosi negatif seperti marah mempunyai gelombang khusus yang
merupakan gelombang yang dipancarkan dari otak. Gelombang ini dapat bergabung
dengan gelombang suara orang yang berteriak. Nah, gabungan gelombang suara dan
gelombang emosi marah ini menghasilkan gelombang ketiga dengan
efek yang khusus.
Efek dari gelombang ketiga ini adalah sifat destruktifnya
terhadap sel-sel otak orang yang dituju. Dalam satu kali bentakan saja, sejumlah
sel-sel otak orang yang dijadikan target akan mengalami kerusakan saat dia
terkena gelombang ini, baik bila dia mendengar suaranya atau pun tidak. Hal ini
karena gelombang ketiga ini tetap merambat sebagaimana dia gelombang suara tapi
langsung ditangkap oleh otak sebagaimana gelombang otak.
Efek kerusakan pada sel-sel otak akan lebih besar pada anak-anak
yang dijadikan sasaran bentakan ini. Pada remaja dan orang dewasa mengalami
kerusakan yang tidak sebesar anak-anak, tapi tetap saja terjadi kerusakan.
Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang
sering mengalami bentakan di masa lalunya. Mereka lebih banyak melamun serta
termasuk lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah
meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih. Mereka biasanya
seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup, karena kesulitan
memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya akibat dari sel-sel
otaknya yang aktif lebih sedikit dari yang seharusnya.
Oleh karena itu, sebagai orang tua, pendidik, ataupun orang yang
lebih tua dari ‘mereka’, sebaiknya memilih sikap yang lebih kreatif dalam
menghadapi tingkah anak yang mungkin kurang baik. Seringkali orang tua bukan
mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya
orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat
aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya
menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika
menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar,
jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa.
Harus diakui, orang tua yang habis kesabarannya sering membentak
dengan kata-kata yang keras bila anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat
mandi, mengotori dinding dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua
tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa
untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan
susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara
perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang.
Mari yuk selalu memberi pujian tulus dan pelukan kasih sayang
kepada anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang cerdas berjiwa penuh kasih sayang.
Sumber : muslimuna com
Editor :
Drs. H. Abdul Quddus Zoher,MA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar