Alkisah tentang seorang pelayan keluarga
bangsawan yang setiap hari bekerja mengisi bak air majikannya. Menuju rumah
majikannyan yang berada di atas bukit, membuat si pelayan harus berjalan
menyusuri jalan setapak yang menghubungkan antara anak sungai dengan rumah sang
majikan.
Dengan sarana dua ember yang dipikul
menggunakan sebilah tongkat bambu, si pelayan hilir mudik antara sungai dan
rumah majikannya. Setiap hari aktivitas itu secara rutin dilaksanakannya.
Sesuatu yang tak terduga dia rasakan
melalui suara hatinya. Dikisahkan, salah satu ember yang dipikulnya agak retak,
bahkan cenderung pecah. Pelayan itu merasakan si ember pecah selalu mengeluh
karena tak mampu membantu dengan maksimal. Suatu hari ia bertutur; “Tuan,
maafkan aku ya, karena tak mampu menolongmu dengan baik. Badanku yang pecah,
membuat air yang kau isikan selalu tumpah. Sehingga sesampainya kita di rumah
majikanmu, air yang kau isi hanya tinggal sedikit. Air itu sudah banyak
tercecer dan tumpah di sepanjang perjalanan kita”. Demikian keluh si ember.
Mulanya si pelayan menganggap hal itu
biasa saja, namun karena sering kali ia rasakan keluhan itu, maka akhirnya ia
meminta si ember untuk menikmati hijaunya hutan dan indahnya bunga-bunga di
sepanjang jalan yang mereka lalui. Hingga sampai suatu saat, si ember bertutur
lembut kepada si pelayan; “Tuan, sekarang aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Menikmati indahnya pemandangan di sepanjang jalan ini, membuat aku terhibur?”.
Lalu si pelayan memberi penjelasan; “Sadarkah kamu bahwa hampir setiap pagi,
aku mengganti bunga-bunga yang ada di vas bungan meja ruang tamu dan ruang
keluarga majikanku itu?. Tahukah kamu bahwa bunga-bunga itu kuambil dan kupetik
dari bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan yang kita lalui itu?. Mengapa
bunga-bunga dan pepohonan di sana tumbuh subur?. Semua itu karena kamu ember.
Karena kamu pecah”.
“Menyadari kamu retak dan pecah, membuat
air yang kuisi menjadi tumpah. Maka hampir setiap hari aku menebarkan
benih-benih bunga yang kuharap dan kuyakini
akan tumbuh subur. Aku tahu bahwa kamu pasti akan menyirami mereka,
walaupun kamu tak pernah menyadarinya”. Subhanallaah, ternyata si ember baru menyadari bahwa
betapapun keadaannya, ia telah berbuat untuk kehidupan makhluk Allah,
bunga-bunga dan pepohonan. Mereka tumbuh subur dan berkembang dengan baik
karena pecahnya ember.
Dan kita, wahai pembaca yang budiman,
kadangkala kita ini bagaikan ember yang pecah. Banyak ketidaksempurnaan yang
kita miliki, yang boleh jadi sering membuat kita mengeluh. Maka yakinklah bahwa
sekecil apapun kemampuan yang kita miliki, haruslah disyukuri dan semoga
memberi manfaat kepada orang lain, bermanfaat untuk kehidupan sesama hamba
Tuhan. Kita diajak untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada, yang bisa kita
lakukan. Sederhana bagi kita, tapi sangat besar maknanya bagi orang lain. Wallahu
a’lam bishshawwaab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar