Bulan
Muharram termasuk salah satu
diantara bulan yang oleh Allah SWT dipilih sebagai bulan yang mulia. Dibulan
itu, terjadi beberapa peristiwa yang amat penting, terutama peristiwa-peristiwa
yang jatuh pada tanggal 10 Muharrom.
Pada
tanggal 10 Muharram dinamakan hari ‘Asyura, yang berasal dari bilangan arab ‘Asyrah,
berarti “sepuluh”. Pada hari itulah Allah SWT menciptakan alam semesta
dan untuk kali pertamanya Allah SWT menurunkan rahmat berupa hujan. Selain itu,
Allah SWT juga menciptakan ‘Arsy, Al-lauh Al-mahfudz, dan malaikat Jibril.
Tanggal
10 Muharram juga hari ketika Allah SWT menurunkan kitab taurat kepada Nabi Musa
as, tanggal yang sama ketika Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara dan penglihatan
nabi Ya’qub yang kabur dipulihkan Allah SWT, pada tanggal itulah, nabi
Ayyub as dipulihkan Allah SWT dari penyakit kulit, dan nabi Yunus as selamat
keluar dari perut ikan paus setelah berada didalam selama 40 hari 40 malam.
Hari
yang penuh berkah itu juga, menjadi saksi terbelahnya laut merah menjadi dua,
menyelamatkan nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran tentara Fir’aun.
Pada hari itu pula, Nabi Adam bertaubat kepada Allah Swt setelah memakan buah
dari pohon terlarang di surga.
Itulah
beberapa kejadian yang menyenangkan yang dianugrahkan Allah Swt . Namun,
dibalik karunia besar itu, juga ada satu peristiwa yang sangat menyayat hati
kaum muslimin didunia yaitu kisah duka pembantaian Sayyidina Husaien bin Ali
bin Abi Tholib, cucu kesayangan Rasulullah SAW.
Peristiwa
yang sangat memilukan hati tersebut, terjadi di sebuah gurun tandus bernama
Karbala di wilayah Irak. Kala itu, imam Husain beserta rombongannya dari pemuda
Bani Hasyim sedang dalam perjalanan menuju kota kufah untuk memenuhi panggilan
rakyat Irak yang berjanji akan membaitnya sebagai kholifah, menggantikan
ayahanndanya, Ali bin Abi Tholib. Kepergian Imam Husain tersebut bukan
semata-mata karena sebuah kepentingan dunia, tidak sama sekali. Tetapi
keberangkatan beliau dan rombongan ke Irak karena ada beberpa hal. Diantarnya,
pertama, dari surat-surat ajakan yang dikirim oleh orang Irak, tampak peluang
untuk bisa mendirikan sebuah pemerintahan yang sesuai syariat. Namun, ternyata
mereka menipunya, dan Imama Husain rela.
Kedua,
ia sudah memperkirakan pengkhianatan itu, namun mati syahid tampak didepan
matanya, ia rindu kepada kakeknya, Rasulullah SAW.
Pada
mulanya, banyak yang tidak menyetujui kepergian Imam Husain diantaranya adalah
Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Mereka menyarankan Imam
Husain agar tetap tinggal di Madinah. Namun, tekad Imam Husain telah bulat.
Keberangkatan
Imam Husain diketahui oleh kholifah Yazid bin Muawiyyah, ia segera
memerintahkan untuk memberangkatkan 4000 pasukan yang dipimpin oleh Ibnu Ziyad
guna menghadang rombongan Imam Husain disebuah tempat bernama Karbala. Pasukan
Ibnu Ziyad melakukan pengepungan dan menyerang terlebih dahulu. Melihat hal
itu, pemuda Bani Hasyim dan para pengikutnya menghadap sang Imam untuk meminta
izin bertempur dihadapannya, Imam Husain mengijinkannya.
Orang
yang pertama kali meminta izin dari kalangan keluarganya adalah Ali Al-akbar,
meskipun sebelumnya sudah di larang oleh Imam Husain.
Ali
Al-akbar kemudian bertempur hingga menemui ajalnya menjadi syahid.
Kemudian
korban jatuh satu persatu dihadapan imam, salah satunya adalah Masruq, seorang
laki-laki yang menjjadi pembantu Imam Husain.
Peperangan
makin memanas, dalam peperangan tersebut terdapat juga putra Sayyid Hasan
yaitu Qosim bin Hasan bin Ali.
Ia
mulai maju sembari membawa pedang yang terhunus, tatkala ia ingin maju, tali
sepatunya putus, sehingga ia harus menunduk untuk membetulkannya. Saat itulah,
datang lah orang yang celaka diantara tentara Ibnu Ziyad, ia memukul
kepala Qosim bin Hasan dengan pedang, sehingga mengakibatkan ia terjatuh,
kemudian menemui ajalnya dalam kesyahidan.
Tidak
sampai disitu, pasukan yang paling celaka lainnya mengambil anak panah dan
melepaskannya ke arah putra Imam Husain yang masih balita yaitu Abdullah bin
Husain hingga tepat mengenai lehernya kemudian ia meninhggal dunia falam
kesyahidan.
Imam
Husain melihat mungsuh makin membabi buta terhadap pasukannya, mereka mengepung
Imama Husain dan sesekali menghantam paha dan kepala kuda yang dinaiki Imam
Husain.
Melihat
hal itu, ia tidak tega sehingga ia pun turun dari kudanya dan berdiri dengan
kedua kakinya, sementara orang yang keji selalu memukul Imam Husain dengan
pedang, akhirnya Imam Husain terjatuh dengan berlutut. Mereka terus
menghantam kepala , tangan dan bahu Imam Husain dengan pedang.
Dalam
pertempuran yang tidak sebanding itulah, seluruh anggota Imam Husain terbunuh
kecuali Sayyidah Zainab dan keponakannya, putra bungsu Imam Husain, Ali Zainal
Abidin bin Husain. Imam Husain gugur dengan tujuh puluh luka bekas sabetan
pedang, tusukan tombak dan panah ditubuhnya.Kepala Imam Husain yang mulia
dipenggal oleh orang yang paling celaka, yaitu Syimmar bin Dzil Jausyan dan
kemudian dipersembahkan kehadapan Yazid bin Muawiyyah sebagai bukti
kemenangan.
Itulah
suka dan duka di bulan Muharrom. Setidaknya semua yang terjadi tersebut
sudah menjadi ketetapan Allah SWT, karena jauh sebelum peristwa itu
terjadi, dalam sebuah riwayat mnyebutkan bahwa Rasulullah SAW menggenggam dan
mencium tanah Karbala yang diberikan oleh Malaikat Jibril seraya memberikan
penjelasan bahwa cucunya Sayyid Husain kelak akan syahid di padang
karabala.
Wallahu a’lam
disarikan
dari majalah Al Kisah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar