
“Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu” demikian bunyi bagian syair lagu berjudul TUHAN yang dilantunkan dengan syahdu oleh kelompok BIMBO. Bunyi syair itu senada dengan apa yang pernah disabdakan Rasulullah Muhammad SAW. lima belas abad silam bahwa pada jasad manusia ada segumpal daging. Bila daging itu baik, akan baik pula sikap dan perilaku manusia itu dan bila daging itu buruk (dalam makna majazi), maka akan dapat dipastikan akan buruklah sikap dan perilaku manusia itu. “Ketahuilah Itu adalah hati”, ungkap Rasulullah menutup pesan haditsnya.
Hati manusia memang merupakan organ yang menyimpan misteri yang terkadang sulit untuk diselami, sehingga memunculkan ungkapan ironi “dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu”. Untuk mengukur keimanan seseorang, Allah melihat pada kondisi hati mereka, bukan diukur dari bentuk rupa dan jasmaninya. “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasmanimu, juga tidak kepada paras mukamu, akan tetapi Ia melihat kepada hatimu” demikian sabda Rasulullah SAW.
Hati adalah tolok ukur keberhasilan manusia menjalin pergaulan dan menjalani kehidupannya. Manusia yang menaburkan benih kebaikan dan ketulusan dari hatinya, akan menuai kebaikan dan ketenteraman. Sebaliknya, jika yang ia taburkan berupa benih kebencian dan keburukan yang berasal dari bisikan najis dari syaitan yang senantiasa mengotori hati manusia itu, maka yang akan didapati adalah panenan keburukan dan ketidaktenteraman hidup, bahkan dapat pula menjadi sumber kehancuran pergaulannya. Begitu luar biasanya dampak yang diakibatkan oleh buruknya hati itu, sehingga terkadang mempengaruhi sikap bicara dan raut muka. Akan tetapi Allah sangat memahami kekhawatiran hambanya akan kerusakan dan keburukan hati mereka, maka Allah berikan jalan yang lurus. Manusia yang beriman dianjurkan memperbanyak ingat padaNya, menghiasi hatinya dengan ber-istighfar, ber-tadabbur (melihat contoh kejadian masa lalu) dan ber-tafakkur (introspeksi diri), itulah sebagian jalan yang baik untuk hambaNya yang beriman dalam mengelola dan mengkondisikan hati mereka agar tidak rusak dan tidak mudah tercemari oleh bisikan syaitan laknatullah. Sebab syaitan sangat risih dan masyghul bila menyaksi-kan ada hamba Allah yang beriman, yang bersatu dan bersama untuk dicintai dan mencintai Allah, yang menjalin kerukunan dan ukhuwah. Sehingga dengan segala upaya mereka kotori hati manusia yang baik itu agar saling benci, saling fitnah, saling curigai, saling umpat dan caci maki, yang akhirnya kebersamaan, kerukunan, ukhuwah antara manusia-manusia yang baik itu menjadi hancur berantakan penuh dendam dan permusuhan. Maka kalau kehancuran yang diidam-idamkan syaitan itu terwujud, mereka akan bersorak kegirangan, pekik keberhasilan memperdaya hamba Allah mereka teriakkan, sebagai lambang kemenangan dan kesenangan mereka untuk memperbanyak teman sejawat kelak merasakan adzab neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.
Kebiasaan kita mencibir dan membicarakan orang lain (Jawa : ngrasani) adalah salah satu penyakit yang muncul dari keburukan hati. Perbuatan ini nampak sepele dan sederhana. Namun dampaknya sangatlah besar bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Besarnya dampak ngrasani orang lain tersebut pernah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya “Sesungguhnya ghibah (ngrasani) itu lebih berat dosanya daripada zina”. Para sahabat bertanya; “kenapa demikian ya Rasulallah?”. Rasul Menjawab; “Apabila seseorang terlanjur berzina dan kemudian ia bertobat dengan sebenar-benarnya (taubatan nashuha), maka Allah akan mengampuni dosanya itu. Tapi dosa ghibah, tidak akan diampuni Allah sebelum orang yang dicibir atau dibicarakannya itu memberi maaf”. (Dalam Kitab: Irsyadul’ibaad ilaa Sabiilirrasyaad).
Di hari ini, di hari yang penuh berkah ini, kita semua menggantungkan sebuah harapan, mudah-mudahan Allah SWT menganugerahkan pada kita hati yang penuh kedamaian, kesejukan dan ketentraman. Menghindarkan kita dari segala penyakit hati yang akan mengotori nilai-nilai ibadah kita kepadaNya.
Semoga ………… !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar