
16 tahun lalu, tanggal 4 Maret 1994, pukul 14.45 WIB, hari Jum’at sore....
Itulah saat pertama kami mendengar tangismu dari balik ruang operasi Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta. Kebahagiaan saat itu tak mampu dilukiskan dengan apapun dan dimanapun. Ibumu yang masih terkulai lemah karena pengaruh obat yang membiusnya, mencoba sadar secara perlahan. Saat itulah Babe memberikan bisikan padanya bahwa ia telah melahirkan seorang anak laki-laki, lengkap, sempurna dan berambut lebat. Babe ingat betul, ibumu nampak tersenyum mengisyaratkan bahwa ia bahagia melahirkanmu, walau harus melalui jalan pembedahan ceassar.
Anakku,
Hari-hari kita jalani dalam suka dan duka. Dalam kebersamaan, dalam kehangatan keluarga kita. Sungguh perasaan Babe tak akan pernah tenang manakala menyaksikan engkau menangis karena sakit. Saat umurmu baru seminggu, engkau terserang flu. Dan ketahuilah nak, demi mengurangi deritamu, seringkali Babe (maaf agak jorok) menghisap cairan yang ada di hidungmu. Itu Babe lakukan berulang-ulang, agar engkau lega bernafas.
Dua setengah tahun engkau mengikuti ibumu yang mendapat ikatan dinas di UI Depok, Jakarta. Setidaknya dua kali sebulan Babe menemui kalian di Jakarta, walau keadaan ekonomi keluarga kita saat itu sangat pas-pasan.
Anakku,
Saat usiamu memasuki angka 9 tahun, Allah mulai menguji kami orangtuamu. Entah apa yang kau rasakan saat itu. Yang kami tahu hanyalah bahwa setiap pulang sekolah engkau mengeluh pusing dan menyandarkan kepalamu ke tembok depan rumah kita. Ibumu yang sangat teliti dan sangat memperhatikan kesehatan keluarganya memeriksakan darahmu ke Rumah Sakit. Dan....itulah saat pertama Babe terhenyak. Saat engkau divonis terkena virus CMV, virus yang cukup ditakuti dan menyerang memori otak, sumber berfikirnya manusia. Sejak itulah, hari-hari kita mulai dirundung kesedihan. Walau do’a tak pernah putus kepada Allah Sang Khaliq, Sang Maha Pencipta. Dua tahun pengobatan harus kau jalani. Malam-malam berlalu hanyalah berisi do’a dan tahajjud, mengharap kesembuhanmu, mengharap kebahagiaan keluarga kita. Alhamdulillah Dia mendengar do’a-do’a kita, Dia kabulkan pinta dan harapan kita. Engkau dinyatakan sembuh total dan kebahagiaan mengisi relung hati kita kembali.
Karena dokter menyatakan kesehatanmu itulah, maka Babe dan Ibumu siap melepasmu untuk menimba ilmu pengetahuan di kawah candradimuka, Darussalam Gontor. Kebahagiaan menyaksikan engkau diterima di Gontor sungguh luar biasa. Menerima telepon dari ibumu yang menyaksikan langsung pengumuman kelulusan itu, hanya Babe jawab dengan derai air mata bahagia. Tak ada kata yang sanggup Babe ucapkan selain kalimah hamdallah, puji syukur kepadaNya, kepada Allah SWT yang begitu baik dan begitu besar kasihNya kepada kita.
Syawal 1426 H., engkau memulai hari-hari di Gontor. Ibu dan Babe serta kedua adikmu Fafa dan Adib merasa kehilangan. Namun kami tetap ikhlas. Ikhlas melepasmu, karena kepergianmu adalah kepergian dalam perjuangan meraih masa depan. Babe yakin, ibumu sangat berat melalui minggu-minggu pertama itu. Babe sangat menyadari hal itu. Ibumu sering mengigau menyebut namamu, dan itu Babe tahu karena dia amat sangat kehilangan dirimu. Ibumu berhadapan dengan dua pilihan yang teramat sangat berat. Antara keinginan selalu dekat denganmu dan bisa memelukmu kapan ia mau. Dengan keinginan dipihak lain, yaitu memiliki anak yang berakhlaq tinggi, pandai berbahasa asing, cerdas dan lulusan Pondok Gontor, sekaligus meneruskan harapan dan cita-cita Babe yang masih belum sempurna kala disana.
Anakku,
Selasa, 5 Februari 2008 pukul 15.15 WIB Babe tersentak menerima telepon darimu yang mengkhabarkan bahwa engkau sakit dan kakimu terasa lumpuh. Tangan Babe dan seluruh tubuh terasa bergetar. Hampir menjerit rasanya, namun Babe masih bisa menahannya. Babe menelepon ibumu yang sedang menguji skripsi mahasiswanya di kampus dan memberitakan tentang isi teleponmu. Sore itu juga kami berangkat meluncur menuju Gontor. Pukul 20.30 kami memasuki Gerbang PM Gontor, dan masya Allah....Babe dan ibumu tak sanggup lagi menahan tangis saat melihat engkau berjikrak-jingkrak berjalan, terpincang-pincang menarik kakimu, seakan menyeret badanmu saat keluar dari ruang kelas menuju kamarmu. Dari kejauhan kami menyaksikan engkau berjalan anakku. Terasa ada halilintar yang menyambar-nyambar, terasa sesak nafas di tenggorokan menahan air mata yang memaksa keluar, tertumpahkan mengiringi perasaan yang teriris-iris menyaksikan deritamu anakku.
Malam itu, kita langsung pulang ke Jogja dan langsung menuju Rumah Sakit Bethesda. Dari Bethesda kita disarankan ke RS. Sardjito yang memiliki Lab ENMG yang lengkap. Kami mencoba terus bertahan saat dokter Yudiana menyampaikan hasil pemeriksaan Laboratorium bahwa selaput syaraf kaki kananmu termakan oleh auto imun yang ada dalam badanmu. Subhanallah...penyakit macam apa lagi itu. Kami tetap bertahan dan tabah anakku. Sebagaimana pula ketabahan yang kau tunjukkan kepada Babe dan ibu saat mengantarmu periksaa di Rumah Sakit. Babe berlinang air mata saat kau katakan bahwa engkau tetap bersyukur kendatipun harus pincang, sebab banyak orang yang tak pernah punya kaki. Itulah kalimat yang teramat bijaksana dan bermakna besar bagi Babe. Kalimat itu justeru keluar dari mulut anakku yang sedang diuji olehNya. Luar biasa kesabaranmu anakku. Do’akan Babe dan ibu serta adik-adikmu juga selalu tabah menerima semuanya. Kami merasa bahagia ketika dokter menyatakan bahwa kakimu 90% dinyatakan sembuh, tinggal melakukan terapi-terapi sederhana agar lebih sempurna.
Anakku,
Kami semakin siap anakku, walau harus berkali-kali menerima cobaan Allah, saat sebulan yang lalu engkau mengeluhkan tanganmu yang sulit memegang pena bila menulis. Tanganmu kau bilang seperti kaku. Dan hasil ENMG pun menyatakan bahwa apa yang pernah terjadi pada kakimu, kini terjadi pada tanganmu. Allahu Akbar, berikan kami kekuatan sepenuh-penuh dan sebesar-besarnya ya Allah. Kami yakin bahwa Engkau tak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kami. Izinkan kami untuk terus sabar dan tabah menghadapi coba dan ujianMU ya Allah. Bukakan jalan bagi kami untuk memenuhi semua ujian dan cobaan itu, agar kami tak terpuruk dan tersaruk. Ya Allah, kami tetap sabar, kami tetap akan tabah. Besarkan jiwa kami menerima semuanya. dariMU kami hidup, untukMU kami hidup, dan hanya kepadaMU kami serahkan semua persoalan yang kami hadapi dalam menjalani hidup ini. Innaa shalaatanaa wa nusukanaa wa mahyaana wa mamaatanaa lillaahi rabbil’aalamiiin.........Dekaplah kami ya Allah dengan “sayap-sayap” kasih sayangMU, karena betapapun kemampuan yang kami miliki, tak mungkin bertahan tanpa bantuan dan pertolonganMU.
Wassalaam,
Qudsie Zoher, 15.12.2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar