Kamis, 25 November 2010

Waktu itu bagaikan "Pedang"....


“Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran” (QS. Al ‘Ashr 1-3)

Kemampuan memanfaatkan waktu bukan saja masalah efektivitas dan daya guna seorang hamba. Seorang yang berhasil mengatur waktu sebaik mungkin dan diman-faatkannya untuk kebaikan, akan memperoleh keuntungan ganda.
Pertama, Secara pribadi ia akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia. Kedua, ia akan digolongkan Allah dalam golongan “sebaik-baik” manusia. Sebaliknya, orang yang melalaikan pentingnya waktu, bukan saja akan rugi secara material, tetapi juga akan digolongkan Allah dalam golongan “sejelek-jelek” manusia.

Sabda Rasulullah Muhammad SAW.:
“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang dikaruniai panjang umur dan ihsan perbuatannya. Sedangkan sejelek-jelek manusia adalah mereka yang dikaruniai panjang umur tapi dihabiskannya untuk kemaksiatan dan kejahatan

Senada dengan sabda Rasulullah di atas, Allah SWT. memperingatkan di dalam Al Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri (seseorang) memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr 18)

Peringatan Allah di atas, sesuai dengan kenyataan yang melingkupi kehidupan kita sehari-hari. Seandainya mau berhitung secara obyektif, mungkin banyak waktu yang kita habiskan bukan untuk beribadah kepada Allah. Bila kita kumpulkan waktu yang kita gunakan untuk shalat, berwudhu, mengkaji Al Qur’an dan ilmu-ilmu agama, berdakwah antar sesama, dan ibadah lainnya, mungkin belum mencapai seperlima dari waktu yang Allah anugerahkan kepada kita. Itupun bila amaliyah ter-sebut kita lakukan dengan ikhlas dan mencari ridho Allah semata.

Hampir seperempat waktu yang ada, kita habiskan untuk tidur, istirahat, sekolah, bekerja dan lain-lain. Semua pekerjaan tersebut pada dasarnya adalah duniawiyah. Ia baru bernilai ibadah dan mendapat kebaikan disisi Allah apabila diniatkan ikhlas sebagai pengabdian dan mencari ridho Allah SWT. Tentunya, keuntungan ganda seperti tersebut di atas akan didapat, duniawi tercapai dan insya Allah, ridhoNya akan kita peroleh.

Memang, tidak dapat disangkal lagi, bahwa dalam perjalanan panjangnya, sudah cukup banyak hasil yang telah dicapai. Perbaikan di segala bidang masih perlu ditingkatkan, terlebih lagi meningkatnya niat ikhlas dan pengabdian berbingkai ta’abbud kepada Allah SWT. dan mencari ridhoNya yang harus dimiliki oleh setiap sumber daya insani yang ada di dalam lembaga ini. Sebab, bila sebuah lembaga pendidikan yang dilandasi oleh kerangka yang diniatkan untuk berta’abbud kepada Allah SWT. kelak dimasa mendatang akan lahir para dokter yang manusiawi, yang menempatkan nilai kemanusiaan di atas komersialisasi. Akan lahir para akuntan yang tidak suka memanipulasi pembukuan. Akan tampil para ekonom yang berorientasi pada kepentingan umat. Akan lahir para birokrat yang menghargai kepentingan orang banyak. Akan lahir para tokoh yang menjadi uswah hasanah (suri teladan) bagi lingkungannya.

Dan Na’udzubillaah, bila sebuah lembaga sudah menjadikan dunia sebagai tujuan utama tanpa ada niat yang ikhlas, apalagi untuk mencari ridho Allah, maka akan lahir darinya para dokter yang berorientasi material dan komersial ketimbang kemanusiaan dan ukhuwah. Akan banyak para akuntan yang lebih suka menutupi temuan manipulasi dan korupsi ketimbang memberantasnya. Akan tampil para ekonom yang sibuk menggali peluang bisnis para konglomerat dan industrialis ketimbang untuk masyarakat banyak. Akan banyak birokrat yang suka memeras dan meminta komisi ketimbang melayani rakyatnya. Akan lahir para tokoh yang uswah qabihah (contoh buruk) yang akan semakin menyesatkan lingkungannya.

Saudaraku,
Mungkin detik inilah kita bisa memulai untuk menghiasi kembali niat dan tujuan perjalanan hidup kita, sebab amal yang kita perbuat tidak ada yang netral. Hanya ada dua pilihan yang pasti. Amal baik (shalih) yang akan dicatat oleh Malaikat Raqib, yang mendeteksi kita dari sebelah kanan. Atau amal jelek (maksiat) yang akan dicatat oleh Malaikat ‘Atid, yang mendeteksi kita dari sebelah kiri. Tiada yang lain dari itu !.

Allah Maha Mengetahui segala apa yang kita perbuat, walaupun itu hanya dari bisikan hati.
“Tiada satu ucapanpun yang diucapkan manusia melainkan ada didekatnya malaikat pengawas Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir)” (QS. Qaaf 18)

“Dan sesungguhnya bagimu ada malaikat yang mengawasimu, (Malaikat) yang mulia dan yang mencatat (pekerjaan¬pekerjaanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(QS. Al Infithaar 10-12)

”Waktu itu bagaikan mata pedang yang tajam. Bila kau tak mampu mengendalikannya, maka ia akan menebas batang lehermu” (Mahfudhat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar