
Imam Asy Syibli pernah bercerita mengambil tamsil sebatang pohon dan seorang anak kecil. Adalah dia sebatang pohon yang rindang, tumbuh gagah di atas tanah pekarangan. Di bawahnya bermain seorang anak kecil, berlari-lari memutari pohon. Dia bermain menikmati gemerisik suara dedaunan yang saling bersentuhan. Suara-suara itu melantunkan melodi indah yang seringkali membuat sang anak tertidur di bawah pohon itu.
Suatu saat, anak itu berkata kepada pohon; “bolehkah aku minta daunmu untuk aku buat topi dan mainan lainnya?”. “Oh iya...silahkan ambil nak. Ambillah sesukamu, kapan saja kau mau”, demikian jawab si pohon. Beberapa lama kemudian, si anak berkata lagi; “pohon, bolehkah aku meminta ranting dan dahanmu untuk kujadikan tombak dan mainan?”. Ya, silahkan” jawab pohon menyetujui permintaan si anak.
Saat mulai tumbuh remaja, si anak berkata; “pohon, aku ingin batangmu untuk membuat rumah dan perahu. Perahu itu akan kugunakan berlayar mencari ikan untuk kujual agar aku mendapat uang”. “Oh silahkan nak, silahkan tebang aku dan ambil apa yang kau mau”, demikian jawaban pohon tanpa ada secuilpun kalimat keberatan atas permintaan si anak.
Rumah sudah berdiri, sebuah perahu besarpun sudah siap dibawa untuk berlayar mencari ikan dan sumber kehidupan lainnya. Lalu pada suatu saat, si anak datang lagi mendekati pohon yang hanya tinggal akarnya dan berkata; “pohon aku capek, aku lelah dan badanku terasa penat sekali. Bisakan engkau menolong aku?” “iya nak, mari kesini, mendekatlah padaku. Aku hanya tinggal akar, jadikanlah akar ini sebagai bantal untuk tempatmu bersandar. Tidurlah anakku, lepaskan capek, lelah dan penatmu disini”...demikian jawab pohon penuh kasih.
Subhaanallah......inilah tamsil hidup kita. Pohon itu orang tua dan si anak adalah gambaran kita sebagai anak. Atau pohon itu kita, si anak adalah anak-anak kita. Demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anaknya, orangtua berkorban dengan apa saja, bahkan sampai habis apa yang dimilikinya, mereka tak pernah mengeluh. Betapapun hanya tinggal akarnya, mereka tetap tak pernah mengeluh asalkan anaknya senang, asalkan anaknya bahagia menjalani kehidupannya.
Betapa mulia kau orangtua yang mengasihi anak-anaknya dengan seluruh jiwa dan raganya. Semoga kita menjadi “pohon-pohon” kehidupan yang ikhlas, berkorban untuk kehidupan masa depan anak-anak kita.Amiin, semoga!
Quddus Zoher
Sabtu, 16 Januari 2010
14,55 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar