
Suatu hari seorang ayah mengajak anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun untuk berwisata ke lereng sebuah pegunungan. Keduanya mampir di mulut sebuah gua yang berada di bagian dari lereng gunung tersebut. Si anak bertanya kepada ayahnya; “ayah, apa nama tempat ini?”. Betapa terkejutnya anak kecil itu, manakala ia mendengar dari dalam gua terdengar suara anak kecil bertanya kerpada ayahnya, persis seperti pertanyaannya. Lalu si anak berteriak: “hei!”. Terdengar suara teriakan dari dalam gua dengan suara teriakan yang sama; ”hei!”. Dia semakin penasaran, maka dia kembali berteriak; “kamu jelek”, terdengar suara dari dalam gua: “kamu jelek”. Demikianlah suara itu berulang seperti bunyi yang diteriakkan si anak. Lalu sang ayah berkata: “anakku, bunyi itu adalah gema namanya. Ia akan memantulkan bunyi suara persis seperti yang engkau suarakan”. Si ayah melanjutkan penjelasannya yang kali ini diselipkannya nasehat buat sang anak, “bunyi gema itu adalah gambaran dari makna kehidupan ini. Kehidupan akan keras terasa bila engkau men ghadapinya dengan keras. Dan ia akan berlemah lembut kepadamu bila engkau berlemah lembut kepadanya”. Sekarang cobalah engkau berteriak lagi, dan katakan: “kamu pintar”. Maka dari dalam gua terdengar kata: “kamu pintar”.
Demikianlah halnya dengan keadaan kita dalam kehidupan ini, kita akan menerima pantulan dari sesuatu yang kita perbuat. Kebaikan akan berbalas dengan kebaikan. Keburukan akan berbalas dengan keburukan. Jika dunia ini diibaratkan dengan sawah dan ladang, maka kita akan mendapatkan apa-apa sesuai dengan yang kita tanam. Kalau cinta yang kita taburkan, maka sorga yang akan kita dapatkan. Akan tetapi, jikalau kebencian yang kita tanamkan, maka nerakalah yang akan kita dapatkan. Dan bila neraka sebagai tempat akhir kehidupan esok, celaka dan nestapalah yang akan dihadapi manusia.
Na’udzubillah min dzalik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar