Sejak aku mengenalnya dalam kehidupan di dunia ini, sosok laki-laki itu amat sangat aku kagumi. Suara lantang, tegas dan tatap matanya yang tajam membuat aku sering tak mampu menghadapkan wajahku kepadanya. Sejak aku mengenalnya, selalu harus kukatakan “ya” pada setiap perintah yang keluar dari mulutnya. Tidak pernah kukenal kata “tidak” dalam konsep dan kamus laki-laki ini.
Sebelas tahun umurku saat itu, saat ia memutuskan bahwa aku harus sekolah di Pesantren. Jawa Timur tujuan kami, ya Pondok Modern “Darussalam” Gontor. Tak ada satupun dari anggota keluargaku yang boleh membantah rencana itu, sekalipun ibuku, wanita yang biasa kupanggil ”emak”.
Kepribadian yang keras itulah yang menempa aku bertahun-tahun sebelum aku dikirimnya ke Gontor. Hari-hari di masa kecilku kuhabiskan dalam didikannya. Dia selalu menyatakan bahwa aku tak boleh cengeng, harus menjadi laki-laki. Apalagi aku adalah anak laki-lakinya yang paling tua.
Laki-laki itu kupanggil “Aba”, sosok seorang bapak yang telah banyak menanamkan kepadaku nilai-nilai kehidupan. Bertahun-tahun aku mengenalnya, mengaguminya dan Alhamdulillah sampai hari ini aku tak pernah kecewa kepadanya. Aku bangga mempunyai “Aba” seperti dia. Walau suaranya menggelegar, walau sosok kekarnya terlihat menakutkan, aku merasakan kelembutan yang tiada tara dari kasih sayang yang ia berikan kepada keluarganya, kepada kami anak-anaknya.
Kenangan bersamanya yang mengisi waktu kecilku tak pernah hilang, nasihat dan pesan mulia yang ia berikan hampir setiap selesai jama"ah maghrib kala itu, tersusun rapi dalam sanubariku. Kalimat-kalimat mulia dan penuh hikmah itu seakan mengalir perlahan mengikuti perkembangan umurku sampai hari ini, walau tak lagi berdekatan dengannya.
Laki-laki itu kupanggil “Aba”, keteguhan bathin yang diajarkannya mengajarkan aku untuk tidak rapuh menghadapi hidup, dimanapun aku berada.
Belasan tahun aku hidup terpisah dengan laki-laki itu, prasasti yang digoreskannya di atas "pualam" masa kecilku itu tak pernah hilang. Setiap aku menemukan masalah dalam hidupku, maka sosok laki-laki itu yang muncul. Kadang ia muncul dalam senyum sejuknya. Kadang pula ia muncul dalam sorot mata tajamnya yang menggugah aku, yang membangkitkan aku, yang menggenggam erat bahuku. "Kamu harus yakin anakku, Allah pasti akan mendampingi kamu"....Pernah aku tertidur di atas sajadah di suatu malam, saat aku merasakan betapa beban hidup yang teramat berat aku hadapi...sosok itu muncul dengan kalimat tegasnya "bangun nak, tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan..inna ma'al 'usri yusroo...setiap kesulitan pasti ada kemudahan".
Dan, saat tulisan ini kubuat, laki-laki itu sudah berusia senja, 67 tahun umurnya. Bayangan masa-masa bersamanya saat kecilku masih jelas terasa. Bersepeda dan naik perahu ke sawah, mencari burung “ayam-ayaman” di sawah itu, sambil aku bermain dengan ketapelku di bawah pohon mangga milik nenekku. Masih kuingat saat aku menangis minta belikan perahu bermesin agar bisa melintasi sungai Ogan yang membentang di kampungku, dia katakan “nanti kita beli ya nak”. Itulah cara beliau menghiburku, walau sebenarnya aku tahu bahwa tak ada toko yang menjual perahu bermesin itu.
Laki-laki itu kupanggil “Aba”, Aba…hari ini kau berulang tahun yang ke 67, sehat selalu ya Ba, semoga ALLAH memberikan keberkatan kepada Aba dalam mengisi hari-hari mendatang. Do’a kami buat Aba selalu…..
Quddus Zoher,
yang amat mencintamu
21 Januari 2010
17.50 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar